27 September 2009

Maaf kudet...

Erm... Tes-tes...
Hehehehe... Hi, Folks! Udah lama banget garcen ga update. Um... maaf atas kekurangupdatetan kami. Hal ini terjadi karena kami sekarang sedang sibuk dengan kesibukan kami masing-masing mengingat kini kami terpisah-pisah kelasnya (sekarang kami kelas 3 SMA, folks!). Kami juga sibuk dengan semakin dekatnya ujian-ujian kelulusan yang mengakibatkan kami harus banyak belajar mengejar ketertinggalan kami di kelas dua (ehem... maaf bagi yang mengerti kalian boleh tertawa).
Setiap hari kami pulang sekolah sore hari dan terkadang dilanjutkan dengan bimbingan belajar. Di hari libur beberapa orang dari kami juga masih ikut bimbingan belajar dan sedang sibuk dengan situs pertemanan yang lainnya. Bahasa kasarnya yaa....................................................................... (isi titik-titik tersebut sesuai dengan pandangan kalian maksud kami apa)
Tapi kami (mudah-mudahan) akan update begitu kami sudah tidak sibuk dan sedang ada cerita yang bagus. Semoga garcen bisa menjadi pemersatu kami yang kini sudah terpisah-pisah (mohon doanya agar kami bisa)..
Least, mohon doanya agar kami bisa diterima di universitas dengan fakultas yang terbaik untuk kami. Dan semoga kami bisa terus berkarya. Amin...

21 February 2009

...dan Rumput pun Berhenti Bergoyang...

"Syukurlah ada pohon ini. Akhirnya aku bisa menutup tubuhku dari pandangan setiap binatang, juga jin dan iblis," kata Adam.

Syukurlah, kami senang bisa membantu

"Oh, ternyata buah ini bisa dimakan! Kita tidak akan kelaparan!!" ujar manusia nomaden.

Ya, kami bermanfaat untukmu, kan?

"Aha!! Jadi rupanya ini yang menyebabkan perbedaan antara orang tua dengan anaknya," kata Mendel

Kami jauh lebih mudah untuk di teliti, kau tahu itu. Terima kasih telah memanfaatkan kami.

"Yah, lihat, aku bisa membuat mainan dari kayu sisa ini, lho!!" ujar Adi kepada ayahnya.

Terimakasih karena kau tidak menyia-nyiakan kami...

"Hmm...produksi karet tahun ini kurang banyak. Mungkin kita harus mencari lebih jauh lagi," kata seorang penyadap.

Jangan lupakan kami, kami akan tetap ada untukmu walaupun kami jauh...


"Pestisidanya kurang ampuh. Mungkin harus ditambah dosisnya," kata petani.

Hei, hei...

"Kapten!! Kebakaran di area C sudah semakin masuk ke dalam! Truk pemadam kita tidak akan bisa memadamkan area itu!" ujar seorang pemadam kebakaran kepada kaptennya.

Tolong cepat padamkan...Di sini panas...

"Waduh! kertasnya kurang, nih!" teriak Wahyu. "Udah, pake yang baliknya aja!" balas Nita. "Aaah!! Ngapain repot-repot segala, sih! Pake kertas baru aja, kan bisa! Nih, pake kertas gue!" kata Rani.

Hei, tidakkah kau lihat keadaan kami?


"Nah, tanah di sini sepertinya bagus, ayo kita buka lahan di sini!" ujar peladang

Jangan usir kami...kami hidup di sini seumur hidup kami...

"Panas banget nih, gue nyalain AC nya, ya!" pinta Kina.

Lebih baik jangan...tolong...

"Bu, air bekas cuciannya jangan dibuang langsung ke tanah, kasian tanamannya," kata Ani. "Biarin aja, lah! Cuma sedikit ini!" balas ibu

Setiap orang yang melakukan itu mengatakan hal yang sama, kau tahu?

"Udah berapa kali dibilang, jangan buang sampah ke dalam got! Kamu nggak tahu efeknya terhadap lingkungan sekitar kita?" ujar Pak Guru marah. "Iya, tahu kok Pak, mentang-mentang sekolah kita mau ikut Adipura, kan?" balas murid

Kau kemanakan nasib kami?

"Bahan buat presentasi besok harus difoto kopi dan dibagikan ke seluruh kelas! Jangan lupa untuk mengerjakan presentasinya di atas karton!" tegas seorang guru pada akhir jam pelajaran. "Pak, kenapa nggak dibuat power pointnya aja?" tanya murid. "Nggak boleh! Harus pakai kertas, nggak boleh yang lain!" perintah guru.

Kalau sudah ada penggantinya, kenapa harus memakai yang lama? Belajarlah!!

" Masih kurang 200 lagi! Bos baru dapet order baru dari Jakarta!!" teriak seorang penebang kepada teman-temannya.

Terus saja habisi nyawa kami

"Duh, lo punya tissue, nggak?"tanya Neta. "Nggak ada. Minta aja ke Sari. Eh, lo nggak papa tuh pake tissue terus-terusan? Ntar global warming lagi!" jawab Tyas. "Global warming! kalo lo terus-terusan mikirin global warming, lo nggak bakalan bisa hidup, tau!" balas Neta.

Hei, lihatlah kami sekarat

"Global warming itu siklus. Jadi, nggak peduli mau seberapa banyak pun lo ngedaur ulang ataupun ngehemat, tetep aja bakal terjadi! Makanya, mending nggak usah repot-repot," kata Sita sambil tertawa.

Apa kalian hanya peduli pada kami karena global warming? Apa kalian pikir kami tak punya jiwa? Apa kalian pikir kami bukan makhluk hidup yang sama dengan kalian? Mengapa kalian, manusia, begitu egois? Baik, kalau memang kalian hanya peduli pada nasib kalian, tengoklah ke jendela. Lihatlah kami mati di luar sana. Dan renungkanlah...apa yang akan terjadi jika kami tidak di sini untuk kalian.

Rantai

Aku menghela nafas, dan lagi-lagi, aku menunduk, membaca data dari pasien yang kutangani. Sekali lagi, aku berusaha mencari tahu apa yang membebani orang ini. Ia mempunyai istri yang baik, ramah, dan parasnya, lumayanlah, tidak terlalu cantik tetapi juga tidak jelek. Ia juga mempunyai dua orang anak, keduanya kini tengah menempuh pendidikan di SMA, dan keduanya tidak pernah membawa masalah yang berarti bagi keluarga. Pekerjaannya baik-baik saja, tentu, sebelum ia mulai mengalami gangguan dan akhirnya keluarganya membawanya padaku. Dan yang terpenting, ia juga seorang psikiater, sama sepertiku. Dia terkenal, justru sebagai psikiater andal di kota ini. Dan sekarang, ia mengalami gangguan yang menyebabkan ia terpaksa datang padaku, seorang psikiater kelas dua.

Kemarin, ia datang menemuiku. Aku membayangkan kembali saat itu, seolah-olah aku melihat lagi sosoknya yang cukup berantakan, pasti, dibandingkan dengan penampilan sehari-harinya, duduk di kursi di depanku, ah, bukan, lebih tepat kalau kukatakan setengah berbaring. Kalimat pertama yang diucapkannya adalah, “Anda seorang psikiater, kan?” Dia menanyakan itu, bahkan sebelum aku memperkenalkan diriku dan menanyakan apapun padanya. Kujawab, “Ya.”

Dia memandangku dengan cara yang tidak kusukai, seolah-olah dia sedang berusaha menilai sejauh mana kemampuanku. Akhirnya dia melanjutkan kata-katanya, “kalau begitu, bisakah anda membantu saya?”

Aku, tentu saja langsung tersinggung dengan kalimat ini. Seolah dia meremehkanku, atau setidaknya begitu yang kupikir. Maka aku menjawab dengan nada tidak suka, “kalau anda kira saya bisa membantu anda, yah, saya akan berusaha melakukan apa yang saya bisa,” kataku.

Tampaknya dia menyadari perubahan nada suaraku, karena ia menjawab, “Jangan tersinggung. Saya hanya ragu, karena…saya sendiri tidak sanggup untuk menolong gadis itu,” katanya dengan nada meminta maaf.

Heh, orang ini cukup waras, pikirku waktu itu. Namun mau tidak mau aku tertarik juga dengan perkataannya barusan. “Menolong gadis itu? Siapa gadis itu?” tanyanku penasaran.

Bukannya menjawab perkataanku, dia justru kembali menanyakan sesuatu, kali ini dengan pandangan menerawang. “Anda tahu...Ivan Illich atau Ki Hadjar Dewantara?” tanyanya.

“Ki Hadjar Dewantara? Tokoh pendidikan nasional itu, kan?” jawabku yakin.

“Ya. Kalau Ivan Illich?” tanyanya kembali. Mendadak aku jadi teringat masa-masa ketika aku bersekolah, dan guru menanyakan sesuatu padaku. Ya, perasaanku sekarang sama persis dengan waktu itu.

“Tidak tahu,” jawabku agak malu, seolah-olah aku mendapatkan nilai jelek dalam ujian karena tidak belajar sebelumnya.

Sampai di sini, aku memutus lamunanku itu. Kunyalakan komputer di kamarku, membuka sebuah search engine terkenal, dan mengetikkan nama tersebut. Ivan Illich. Ya, ini dia.

Aku mengeklik salah satu hasil pencarian itu. Dan membacanya, berusaha mengerti. ‘The book that brought Ivan Illich to public attention was Deschooling Society (1971), a critical discourse on education as practised in "modern" economies. Ah, rupanya itu yang dimaksudnya. Jadi, si Ivan Illich ini juga kritikus pendidikan?

Pikiranku kembali melayang ke siang hari yang lalu. Dia, psikiater itu, tersenyum, seolah mengingat sesuatu yang lucu.

“Apa yang lucu?” sergahku kasar, karena merasa diremehkan.

“Oh, tidak, tidak apa-apa. Hanya saja…” kata-katanya terputus di tengah jalan.

“Hanya saja?” tanyaku penasaran

“Yah, hanya saja…saya rasa begitulah ekspresi wajah saya ketika gadis itu menanyakan pertanyaan yang sama pada saya,” matanya mulai menerawang. Untuk beberapa saat aku takut kalau pasienku ini akan kehilangan kesadarannya. Tapi ternyata tidak. Ia justru melanjutkan pembicaraan kami tadi.

" Dia dibawa oleh keluarganya mendatangi saya. Keluarganya mengatakan bahwa gadis itu mengalami...didaskaleinophobia," katanya. Aku segera mengerti, didaskaleinophobia adalah semacam rasa takut untuk pergi sekolah, namun biasanya rasa takut ini terjadi pada anak-anak, bukan pada seorang gadis.

" Dia menolak untuk pergi sekolah selama dua bulan. Seluruh keluarganya khawatir padanya," Aku mangut-manggut setuju. Memang begitulah biasanya keluarga pasien.

Sejenak dia berhenti. Menghela nafas beberapa kali, dan melanjutkan, "Tapi mereka salah. Saya tahu itu," katanya, matanya terlihat sedikit berair.

Lagi-lagi aku takut kalau pikirannya akan terganggu, tapi dia meneruskan kata-katanya. " Dia menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang saya ajukan tadi kepada anda. Ya..." dia tersenyum, "sama persis. Sama persis sampai saya bisa melihat bayangan diri saya waktu itu pada reaksi anda sekarang."

Aku mulai lelah dengan pembicaraan yang berputar-putar ini. Untunglah dia segera melanjutkan dengan membawa topik baru, "Bagaimana anda bisa menjadi seorang psikiater?" tanyanya.

Aku mulai kesal lagi. Apa sih maunya orang ini? Tapi aku tetap menjawab pertanyaannya. Aku tidak mau terlihat bodoh di depan orang ini. "Karena saya belajar. Saya belajar untuk menjadi seorang psikiater, dan saya lulus, saya mendapat lisensi untuk bisa membuka praktek di sini" tandasku. Tapi ia masih melanjutkan, " Bagaimana kalau anda tidak mendapat lisensi itu?" tanyanya.

Aku bingung. "Tentu saja saya tidak akan membuka praktek di sini" jawabku

"Aaah," desahnya, "Anda benar-benar membuka jalan bagi saya untuk meneruskan," lanjutnya dengan senyum yang tidak dapat kumengerti. "Apa anda ingin menjadi seorang psikiater?"

"Ya," jawabku berhati-hati. Dia kembali bertanya, "Kalau begitu, anda pasti harus mendapat lisensi itu, kan?" tanyanya.

"Ya. Kalau tidak, apa gunanya saya mengambil mata kuliah psikologi dulu? Lebih baik saya mengambil yang lainnya, kan?"

"Hmm...jadi, anda pasti mengambil mata kuliah kedokteran dan melanjutkan ke psikologi, kan? Bagaimana anda bisa masuk ke fakultas kedokteran?"tanyanya, kembali berputar.

"Tentu saja dengan kerja keras! Saya harus belajar untuk mendapat nilai SPMB yang tinggi untuk itu!"

"Tapi, kalau nilai UN anda jeblok, anda pasti tidak akan pernah melanjutkan cita-cita anda, ya kan?"

Aku terdiam sejenak, dan berkata, "Ya."

"Bagaimana agar nilai UN anda tidak jeblok?" tanyanya lagi.

"Ya, tentu saja saya harus belajar yang baik di sekolah. Dan tentu saja saya harus mendapatkan nilai-nilai yang juga memuaskan di sekolah, agar bisa lulus, bahkan naik ke kelas tiga SMA," jawabku sebelum dia mengajukan pertanyaan untuk itu.

"Seandainya anda tidak lulus dari SMP?"

"Tentu saja saya terpaksa harus mengulang satu tahun. Bila saya harus keluar, tentu saya tidak akan menjadi seorang psikiater. Dan kalau saya tidak lulus SD, saya mungkin hanya akan menjadi tukang bangunan, atau mengerjakan pekerjaan kasar lainnya," lagi-lagi aku menyerobot pertanyaannya.

"Ah. Dan bila anda tidak pernah sekolah?"

"Saya mungkin akan menjadi salah satu dari anak jalanan. Menggelandang, mengamen, mengemis, dan entah apalagi."

"Apa itu alasan anda sekolah?"

Aku berpikir sejenak. Aku tidak boleh salah menjawab. Itukah alasanku sekolah? Kalau tidak, untuk apa aku berusaha keras belajar? Untuk apa aku marah-marah, kecewa ketika nilai ulanganku jelek? Untuk apa aku berusaha mengelabui guruku dengan jalan mencontek? Untuk apa?

"Mungkin...ya," jawabku akhirnya

"Itu yang dinamakan stereotype, kan?" tanyanya kali ini, sedikit menyimpang dari pembicaraan kami sebelumnya. Aku terpana.

"Bukannya anda seharusnya lebih tahu daripada saya?" tanyaku dengan rasa tidak suka.

"Di ruangan ini, saat ini, saya adalah pasiennya, dan anda dokternya. Jadi, saya beranggapan bahwa anda lebih tahu dari saya," katanya. Aku mengernyitkan dahi, dan menjawab,"Oh, baiklah. Ya, itu yang dinamakan stereotype."

" Begitu. Saya mengerti," katanya, menghembuskan nafas panjang. "Begitu pula cara saya menjawab. Dan sampai sekarang, saya masih menyesali jawaban saya itu," suaranya terdengar bergetar sekarang.

"Apa alasan anda sekolah?" tanyanya lagi. Aku benar-benar jengkel sekarang. Orang ini benar-benar sudah gila, kumaki diriku sendiri dalam hati. Dan aku semakin kesal ketika mendapati aku menjawab pertanyaannya.

"Agar saya bisa menjadi orang, orang yang berguna untuk masyarakat, orang yang...yang..."

"Yang sukses?" katanya membantuku. Merasa tak berdaya, aku mengangguk.

" Rata-rata orang akan menjawab begitu. Sedikit yang akan mendapati bahwa mereka tak punya alasan untuk tetap sekolah. Dan sisanya akan menjawab, untuk mencari ilmu. Tapi, apa itu benar?" Lagi-lagi ucapanya menggantung.

" Kalau hanya untuk mencari ilmu, bisa dilakukan sendiri-sendiri. tanpa harus terikat pada peraturan sekolah. Tanpa harus terikat pada seragam. Tanpa harus terikat pada bayaran sekolah. Tanpa harus terikt pada buku yang ditentukan. Tanpa harus terikat pada guru yang ditentukan. Tanpa harus terikat pada ilmu yang ditentukan....Setidaknya, begitulah kata gadis itu," ia kembali memejamkan mata, ekspresinya seolah menahan perih. "Dan anda harus mengakui, bahwa memang ada cara seperti itu untuk menuntut ilmu," tambahnya.

"Awalnya, saya hanya mengira ia seorang pembolos. Pembolos yang mencari-cari alasan untuk bisa membolos dari kelas. Pembolos yang mencari alasan sekenanya, meskipun dari awal saya sudah takjub dengan pengetahuannya. Berapa orang murid SMA yang tahu tentang Ivan Illich? Berapa orang dari murid SMA yang tahu mengenai teori ruang kelas dengan tiga dinding Ki Hadjar Dewantara?"

Aku menyela kata-katanya, aku mulai tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. "Teori ruang kelas dengan tiga dinding? Segitiga?"

"Bukan, meskipun memang bisa dilihat seperti itu juga. Namun yang dimaksud adalah konsep untuk menyatukan ruang kelas dengan dunia luar, dan bukan sebagai tempat eksklusif bagi murid dan guru," jawabnya.

"Saya kira dia akan mulai mengajukan alasan seperti Thomas Alfa Edison yang bisa menjadi salah satu orang paling bersejarah di dunia ini, meskipun ia dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap bodoh. Tapi ternyata tidak. Dia justru mengajukan pertanyaan terus menerus tentang efisiensi dan efektivitas dalam sistem."

"Dia bertanya, berapa umur anda saat anda menjadi seorang psikiater? Kujawab, 37 tahun saat saya mulai membuka praktek sendiri," dia menarik nafas dalam-dalam, dan melanjutkan, " Kemudian dia bertanya lagi, berapa banyak kekayaan yang anda miliki saat ini? Tentu saja saya kaget, nyaris saja saya mengatakan,' itu privasi saya!' Namun ada sesuatu yang membuat saya ingin menjawabnya. Maka saya menjawab, 'ya, sekitar rumah ini, mobil saya, dan tabungan, mungkin beberapa hal-hal lain yang tidak ingin saya sebutkan.' Dia berhenti sejenak, dan melanjutkan, 'pernahkah anda berpikir, mungkin saja anda bisa memperoleh semua itu ketika anda masih berusia, katakanlah, tujuh belas tahun?'"

"Saya terdiam sejenak, dan berkata, 'mungkin saja.' Tapi dia berkata, 'bagaimana kalau saya katakan itu tidak mungkin?' Saya menjawab, 'berarti kamu orang yang pesimis.' Kali ini dia yang terdiam sejenak, namun dia lagi-lagi membalas kata kata saya,' ya, mungkin saya memang orang yang pesimis. Tapi coba anda pikir, berapa banyak perusahaan yang mau menerima karyawan yang belum menamatkan sekolahnya? berapa banyak perusahaan yang mau menerima karyawan yang tidak berpengalaman?'"

"Maka saya menjawab lagi, 'yah, kamu bisa mencari uang dengan cara mandiri, wiraswasta mungkin?' dan saya kembali dipojokkan. Ia kembali menyerang saya, 'berapa banyak sekolah yang mengizinkan murid-muridnya berusaha? bukankah mayoritas dari sekolah memfokuskan diri untuk menjaga agar siswanya meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi? Bukankah banyak sekolah yang menyita waktu siswanya dengan cara membuat mereka selama mungkin berada di sekolah? dan setelah pulang pun, mereka dijejali dengan begitu banyak PR, yang mencegah mereka untuk keluyuran dari rumah?' saya memotong kata-katanya, dan berkata, ' bukankah itu hal yang bagus? banyak remaja yang terjebak pergaulan bebas saat ini, bukan?' Ia tersenyum, seolah mengejekku, dan berkata, 'begitulah cara pikir kalian. Tapi, tidakkah kalian sadar, bahwa itu juga menghalangi kami dari melihat dunia luar. Seorang siswa seolah-olah adalah seekor kucing rumah yang dipelihara dengan baik sejak lahir, lalu tiba-tiba dilepaskan begitu saja, dan terpaksa mencari makan sendiri. Ia tidak punya pengalaman, dan kemudian, yang terjadi adalah hukum rimba, yang terkuat yang akan bertahan hidup. Yang lainnya? Mati kelaparan, matikedinginan, mati diterkam oleh binatang lain.'"

Sampai di sini ia berhenti, mungkin kehabisan nafas karena bicara begitu berapi-api. Aku menawarkan minuman, namun dengan halus ditolaknya. Setelah beberapa saat, ia melanjutkan lagi pembicaraannya.

"Gadis itu berkata, 'berapa tahun yang kita butuhkan untuk menyelasaikan sekolah? katakanlah, enam tahun pada SD, tiga tahun saat SMA, dan tiga tahun saat SMA. Kemudian ditambah sekitar 4 tahun saat perguruan tinggi. Itu kalau hanya mengambil S1. Belum kalau mengambil S2. Bisa-bisa memakan waktu 20 tahun sendiri. Kira-kira umur pada saat kita masuk SD adalah 6 tahun. Maka, umur kita pada saat lulus S1 sekitar 22 tahun. Dan baru saat itulah kita bisa mulai bekerja, mulai mencari penghasilan sendiri, dan boleh dikatakan, mulai berperang'"

"'Itupun, seandainya kita tidak salah memilih jurusan nantinya. Kalau sampai salah, bayangkan betapa sia-sianya waktu dan usaha yang kita berikan selama ini,' aku menyela lagi, 'Tapi, bukankah semua ilmu itu ada gunanya?' Ia menjawab, 'ya. tapi, dengan adanya ijazah, bisakah anda bekerja sebagai dokter kalau ijazah anda berkata bahwa anda adalah seorang arsitek? Bisakah anda menjadi seorang psikiater kalau ijazah anda mengatakan bahwa anda adalah dokter gigi?'"

Ia mulai terbatuk-batuk, tapi ia tetap meneruskan ceritanya, " Ia juga memprotes kurikulum yang ada saat ini. Katanya, 'kenapa kami harus belajar sejarah kalau hanya untuk menghafalkan nama, tempat dan tanggal kejadian? Bukankah tujuan dari pelajaran ini adalah belajar dari masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama? Kenapa pelajaran Pkn dan sosiologi tidak digabungkan saja ke dalamnya? Jadi kami tidak hanya mempelajari tanggal-tanggalnya, namun juga latar belakang kejadian secara sosial, psikologi, dan juga politik. Juga mencari solusi jika kejadian serupa terulang? Atau, mengapa pelajaran BK tidak diganti dengan dasar-dasar psikologi? setidaknya itu akan membantu kami dalam bersikap, dalam bermasyarakat, bukannya menina bobokan kami, mencekoki kami dengan cara-cara belajar, atau dengan pilihan-pilihan perguruan tinggi. Bukankah mata pelajaran ini dinamai bimbingan konseling? Kenapa harus dibatasi dengan masalah seputar sekolah, bukannya seputar dunia, agar kami juga belajar untuk hidup di dunia luar?'"

"Kemudian, lagi-lagi saya memutus bicaranya. Saya bertanya, 'Apa kamu sedemikian membenci sekolah?' Ia menimbang-nimbang, baru menjawab, 'mungkin ya. Tetapi, saya bukannya membenci sekolah, melainkan membenci bagaimana sekolah dijalankan. Sekolah dijadikan ajang politik, ajang kekuasaan, bukannya ajang pendidikan, dimana kami diminta untuk mencari pencerahan sebagai generasi penerus bangsa ini. Justru, di sekolah kami diajari bagaimana cara bersikap dalam masyarakat sekarang, agar kami dapat membaur, bukannya membuat suatu perubahan yang nyata untuk mengangkat harkat negara ini. Bagaimana kami bisa mencari solusi, bagaimana kami bisa menajdi generasi penerus dengan cara seperti ini? Sementara kami terus-terusan ditekan untuk bersikap baik, patuh pada sistem yang ada, tanpa memiliki keinginan untuk memprotes segala sesuatunya. Bagaimana kami bisa diharapkan untuk menmbuat sebuah perubahan jika yang mengharapkan kami membuat perubahan justru takut pada perubahan itu sendiri?'"

"'Dan begitulah seterusnya, dari generasi ke generasi. Dari zaman anda dahulu, sampai ke zaman, mungkin, anak anda, sekolah tetap seperti itu. Apanya yang berubah? Semuanya tetap menilai dari hasil, bukan proses. Semuanya tetap memberi nilai. Semuanya mengkritik bahwa kami adalah generasi yang tak bisa diharapkan, bahwa kualitas dari generasi ke generasi makin menurun, tapi sadarkah anda, bahwa yang mendidik kami untuk berbuat begini adalah generasi anda! Terwujudnya kekerasan di sekolah, korupsi, dan segala macam tindak kriminal, mungkin juga berasal dari sana. Mungkin, bila sekolah diubah, juga akan mengubah paradigma bangsa ini tentang segala sesuatu...'"

"' Sayangnya...tidak ada, atau sedikit, yang dapat mengerti saya. Kebanyakan orang, bahkan orang tua saya, menganggap saya gila. Dan anda tahu? Paradigma itu juga disebabkan oleh sekolah. Stereotype yang ada, semuanya, mungkin berasal dari sana. Seandainya tak ada predikat orang yang tidak sekolah, orang yang tidak berpendidikan, predikat yang membedakan satu dari yang lainnya, stereotype yang membuat jurang diantara satu dan lainnya, yang menciptakan kesenjangan, paradigma yang membuat orang berpikir sempit. Semuanya...bagaimana saya harus mulai berubah?'"

Ia menghela nafas dalam-dalam, lalu melanjutkan ," Saat itu, anak saya yang masih duduk di SD, masuk ke ruang kerja saya. Gadis itu menatapnya dengan pendangan aneh, dan berkata, 'hati-hatilah, mungkin anak anda juga akan terjebak dalam rantai itu,' Kata-kata itu terus menghantui saya. Saya berusaha, sedikit demi sedikit, mempengaruhi orang dengan cara pikir saya. namun, seperti yang gadis itu katakan, orang-orang menganggap saya aneh. Namun saya masih belum mau menyerah, sampai saya kembali mendengar kabar dari gadis itu,"

"Beberapa hari sebelum kejadian itu, orang tua gadis itu sempat menelepon saya dan mengucapkan terima kasih karena putri mereka mau masuk sekolah kembali. Tapi, suasana damai itu hanya untuk beberapa hari. Kelihatannya gadis itu mulai mengutarakan ide-idenya lagi, yang menyebabkan ia dipanggil oleh guru-gurunya, bahkan sampai menghadap kepala sekolah segala. Dan di situlah, keputusannya untuk menunjukkan pendiriannya sudah bulat. Ia mengangkat sebuah kursi dan mengayunkan kursi tersebut ke jendela. Tentu saja, jendela-jendela itu pecah. Maka, sekolah mengirimkan surat kepada orang tua gadis itu bahwa...bahwa...putri mereka menderita gangguan jiwa,"

Kali ini punggungnya bergetar. Dan bukan hanya punggungnya, tapi juga suaranya, bahkan matanya pun menjadi liar. " Dia tidak apa apa!! Gadis itu tidak apa-apa, ia hanya memiliki idealisme, dia tidak apa-apa, dia tidak seharusnya berada di sana...dia tidak seharusnya menjalani karantina di sana...bersama orang-orang gila...kriminal...dia...." dan tangisnya pun pecah.

" Sejak saat itu, saya melarang tiga orang putra putri saya untuk pergi ke sekolah. Dan itu pula...yang menyebabkan...keluarga saya mengirim saya ke sini....."

Lamunanku kembali terputus, kali ini oleh ketukan di pintu. Dina, asistenku, melongokkan kepalanya ke dalam kantor.

"Pak, ada telepon dari keluarga Pak Marsal, pasien yang kemarin sore datang...katanya, mereka telah memutuskan untuk memasukkan beliau ke pusat rehabilitasi, jadi janji sore ini dibatalkan," katanya.

Kepalaku mendadak pusing. "Ke...Kenapa?" tanyaku terbata.

"Katanya, tadi siang Pak Marsal menghancurkan nyaris separuh ruang kelas putranya. Beliau menghancurkan jendela-jendela, bahkan kursi-kursi yang ada. Padahal, saat itu tengah berlangsung rapat orang tua murid di sekolah putranya itu. akrena itu pihak keluarga memutuskan untuk membawa Pak Marsal ke sana," jelas Dina.

Aku terhuyung, tanganku berusaha mencari pegangan untuk menopang tubuhku. Seketika aku teringat dua putriku yang masih SD.

Dina yang mungkin panik melihat keadaanku, segera mengambilkan kursi dan bertanya, "Pak, Bapak baik-baik saja? Perlu saya bawakan sesuatu?"

Dengan keadaan setengah sadar, aku menjawab lemah, "Ya...panggilkan aku...seorang psikiater..."

24 January 2009

Amaryllis

“Aaarrrggghhhhh!!!! Keluarin gue!!! Bangsat!!!!! Anjing!!! Babi!!!!!!!!”

Suara itu terdengar dari sebuah ruangan di salah satu bangsal di rumah sakit jiwa Malang saat aku dan seorang perawat berjalan melewati lorong-lorong yang penuh dengan beberapa orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Walaupun sudah sering aku menangani pasien yang mengalami gangguan kejiwaan, baru kali ini aku mendengar teriakan sehisteris itu, terdengar sangat menyedihkan alih-alih seram. Memang hal seperti itu seharusnya sudah menjadi hal yang wajar dalam dunia ku, tetapi baru sekali ini aku mendengar dan merasakan langsung orang yang mengalami gangguan kejiwaan yang begitu histeris.

“Mas, Silahkan lewat sini” kata perawat yang mengantarku menuju ruangan dokter kepala di rumah sakit jiwa itu.

“Eh, iya”

“Keluarin gue!!!!!! Bakalan gue bunuh tuh setan!!! Keluarin gue, anjing!!!!!” teriaknya lagi.

“Maaf, mbak. Pasien itu…”

“Oh, itu namanya mbak Mary, dia sudah disini sejak sebulan yang lalu. Memang dia seperti itu, mas, maklumlah namanya juga pasien rumah sakit jiwa” jawab si perawat kalem sebelum aku dapat menyelesaikan pertanyaanku.

“Masalahnya apa, mbak?”

“Dia mengalami depresi berat akibat kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya, kasihan lho mas, pas nganterin kesini ibunya nangis-nangis. Tadinya dia dirawat di rumah sakit jiwa Grogol yang ada di Jakarta, tapi karena sering menyerang perawat dan kabur, jadi dipindahkan kesini” jawab si perawat lancar, aku hanya dapat ber’oohh’ ria.

“Ini mas, ruangannya, Pak Hary sudah menunggu mas dari tadi pagi, saya pamit dulu ya? Masih banyak yang harus saya kerjakan” kata perawat itu dan pergi meninggalkanku sendirian di depan sebuah pintu, yang kata perawat itu adalah ruang kerja dokter kepala.

Aku mendesah mengambil napas panjang sekali dan mengetuk pintu yang ada di depanku dua kali. Suara berat seorang pria menjawab dan menyuruhku masuk. Aku pun menurut, membuka pintu tersebut dan melangkahkan kakiku memasuki ruangan itu.

Ruangan itu memiliki cat berwarna putih dengan foto presiden dan wakil persiden serta burung garuda yang terpasang tepat di hadapan pintu. Di bawah foto tersebut terdapat sebuah meja kerja besar dengan laptop hitam yang terbuka di atasnya dan di balik meja tersebut terdapat sebuah kursi berbantal berwarna hitam. Di seberang kursi berbantal hitam tersebut terdapat dua kursi kondangan berwarna hitam pula. Pada dinding di samping kanan dan kirinya terdapat sebuah rak buku hitam yang terbuat dari kayu yang berisi buku-buku dengan berbagai ukuran.

“Assalamualaikum” sapaku pada seorang pria paruh baya yang memiliki perut yang gendut dan mengenakan kemeja merah marun, dasi hitam dan celana penjang serta sepatu hitam yang dibungkus dengan jas dokternya.

“Waalaikumsalam, dokter Yudha, senang melihat anda disini, ayo duduk-duduk!” sapanya dengan senyuman yang ramah dan jabatan tangan yang keras. Dia melangkah menuju kursinya sendiri dan aku melangkah dan duduk di kursi yang telah disediakan.

“Bagaimana perjalanan Jakarta-Malang? Pasti anda sangat lelah sekali”

”Ah, nggak kok, saya sampai tadi malam, jadi semalam saya sudah cukup beristirahat”

”Saya senang sekali lho, dokter Yudha bersedia dipindahkan dari rumah sakit di Jakarta ke sini, anda kan dokter jiwa yang andal, sudah berpengalaman di sebuah rumah sakit jiwa di Singapura”

”Terima kasih atas pujiannya, lalu, kapan saya dapat memulai pekerjaan saya disini?”

”Ahahahaha... ternyata benar tentang rumor anda seorang yang gila bekerja ya? Baiklah, disini saya telah menyiapkan data tentang pasien anda. Ini, silahkan dipelajari” kata dokter kepala dan menyerah map berwarna merah kepadaku.

“Saya hanya menghandel satu orang?” tanyaku saat aku membuka map tersebut dan mendapati hanya terdapat satu data di dalamnya.

“Ckckck... biar hanya satu orang, tetapi ini tingkat kesulitannya tinggi lho! Saya saja kewalahan menghadapinya”

“Amaryllis Iorwen, umur 17 tahun, didiagnosa depresi akibat kekerasan rumah tangga yang dialaminya?”

“Yup. Mungkin anda sudah mendengar teriakan-teriakannya, nah itu dia” kata dokter Hary saat teriakan-teriakan yang tadi kudengar sepanjang lorong rumah sakit ini terdengar.

“Pasien yang bernama Mary itu?” tanyaku memastikan.

”Oh, anda sudah tahu?”

”Hanya sedikit, tadi saya menanyakannya pada perawat yang mengantar saya ke sini. Mengerikan mendengar teriakannya. Bisakah anda menceritakan lebih lanjut tentang pasien ini?”

”Dia mengalami depresi berat akibat kekerasan ruamh tangga yang dialaminya. Ayahnya selalu menganiayanya secara fisik maupun mental”

”Apakah Ayahnya seorang penjudi atau sering minum-minum? Atau ayahnya mengkonsumsi obat-obatan?”

”Tidak. Tidak ada hal-hal yang anda sebutkan tadi yang menyebabkannya. Hanya saja ayahnya merupakan orang yang temperamen dan amat sangat tidak bersahabat”

”Oh, baiklah, saya mohon diri dulu, dok, saya ingin mengunjungi pasien ini”

”Oke, tetapi saya sarankan anda untuk berhati-hati dan ditemani dua orang perawat pria karena pasien ini sering menyerang orang-orang yang ada dihadapannya”

”Baik, dok, terima kasih atas sarannya. Saya mohon diri dulu, Assalamualaikum”

”Waalaikum salam”

***
Dengan diapit oleh dua orang perawat pria disamping kanan dan kiriku, aku melangkahkan kaki memasuki bangsal pasien yang berteriak-teriak itu. Saat dalam perjalanan menuju ke ruangan ini, aku sudah dapat membayangkan betapa akan berantakan dan menyedihkan wajah gadis yang akan aku tangani itu. Kasihan, masih muda harus meninggalkan masa remajanya dan menghabiskannya di rumah sakit jiwa ini.

Namun gadis yang menungguku di ruangan itu sangat bertolak belakang dengan bayangan ku, yah walaupun memang wajahnya berantakan, atau lebih tepatnya rambut hitamnya yang panjang yang membuatnya tampak seperti orang gila, selebihnya, wajahnya amat sangat cantik. Menunjukan keangkuhan dan kesombongannya, tidak menampakkan wajah yang menyedihkan yang biasanya terlukis di wajah pasien-pasien rumah sakit jiwa.

Dia duduk di sebuah kursi dengan mengenakan pakaian orang gila yang berbahaya, itu lho pakaian yang mengharuskan kedua tanganya terikat. Selain itu badannya terikat oleh seutas tali tambang dan ia berusaha untuk melepaskannya.

”Halo, Mary!” sapaku dan menunjukkan senyuman ramah.

”Siapa lo?!” teriaknya dengan suara parau.

“Perkenalkan, nama saya dokter Yudha, saya yang akan menangani kasus anda menggantikan dokter Hary”

“Cih! Just another moron!” serunya sembari berusaha meludahiku yang merupakan sia-sia belaka, aku berdiri terlalu jauh dari jarak jangkauan ludahannya.

“Okey, mungkin saya moron, tapi saya datang kesini untuk berbicara dengan anda”

“Lo mau ngomong apa sama gue?”

“Yah, bukan sesuatu yang peting sih, hanya mengobrol, kau tahu lha, saya baru sampai disini, belum banyak teman mengobrol”

“Terus apa yang membuat lo memilih gue buat ngobrol?! Gue males ngobrol sama lo! Lo bisa cari teman ngobrol yang lain kan? Masih ada suster, dokter, atau bahkan orang gila lainnya!”

“Anda pasti sangat menderita ya diikat seperti itu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

”Iya! Udah seharian ini gue bilang, teriak-teriak, minta dilepasin! Nggak enak tauk! Lagian gue bukan orang gila!”

”Saya bisa melepaskan ikatan itu”

”Tapi, dok, akan sangat berbahaya melepaskan ikatan itu” potong perawat pria yang berdiri disebelah kanan ku.

”Tenang saja, saya percaya dia tidak akan menyerang saya, benar kan Mary?” tanyaku, sedangkan Mary hanya mengalihkan pandangannya.

”Saya akan melepaskan ikatan kamu itu Mar, asalkan kamu berjanji tidak menyerang seorang pun yang ada disini”

”Apa untungnya buat lo?! Gue tahu trik-trik murahan dokter gila! Si Hary juga tuh melakukan trik yang sama dengan yang lo lakukan ini!”

”Saya hanya tidak nyaman mengobrol dengan orang yang terikat. Yah kalau kamu tidak bersedia, saya mohon diri dulu!” kataku dan dengan perlahan berbalik sebelum...

”Tunggu! Oke! Gue setuju!” teriaknya. Dan aku pun berbalik menuju dirinya dan melepaskan ikatannya sendiri, perawat yang menemaniku hanya menatap ngeri. Ha! Psikologi terbalik selalu berhasil ku lakukan pada pasien-pasienku.

”Nah begini lebih enak kan?” tanyaku berbasa-basi sambil duduk di sebuah kursi lainnya menghadap ke arahnya setelah aku melepaskan ikatannya.

”Ya apa boleh buat, gue cuma mengikuti keinginan lo. Terus lo mau ngobrol apa?” tanyanya, menyembunyikan senyum senangnya dan tetap berpura-pura acuh dan tidak senang.

”Hmm, sebagai permulaan, saya mempersilahkan anda untuk mengajukan pertanyaan apapun itu pada saya!”

”Boleh gue minta sesuatu?”

”Selama itu masih dapat saya berikan, kenapa tidak?”

”Gue mau lo nggak ngomong formal! Hal itu hanya membuat gue jijik!”

“Oke, say… eh aku akan ngomong dengan bahasa yang lebih nggak formal. Boleh kan aku menggunakan kata-kata aku-kamu? Aku sudah terbiasa untuk tidak ngomong elo-gue di depan pasien”

What ever!”

“Oke, kamu mau tanya apa?”

”Cih ini menyebalkan, kenapa harus gue yang memulai pembicaraan! Kan elo yang mau ngobrol sama gue”

”Oke. Pertama aku mau nanya, kamu bagaimana perasaan kamu saat ini?”

”He?”

”Kenapa?”

”Gue kira lo bakalan nanya sesuatu yang membosankan yang biasanya di tanyakan sama dokter-dokter yang lebih tua itu! Seperti alasan gue masih teriak-teriak dan lain sebagainya yang sejenis itu!”

”Hahahaha..... memang aku terlihat setua itu ya?”

”Nggak juga sih. Memang umur lo berapa?”

“Coba tebak!”

“28?”

“Salah!”

“oke gue nyerah! Berapa?”

“Cepet amat nyerahnya! Tebak lagi dong!”

“Gue lagi males tebak-tebakan! Udah deh jawab aja!”

“35”

“Hmmm… udah lumayan tua juga ya! Beda 18 tahun sama gue! Hahaha... btw udah punya anak berapa?”

”Hphhhahahaha..... aku belum menikah!”

”He? Bujang lapuk dong!”

”Enak aja! Memang aku bujang, tapi belum lapuk!”

”Memang kenapa belum nikah?” tanyanya. Aku hanya terdiam, teringat memori masa lalu yang membuat hatiku tersayat-sayat mengingatnya.

”Kok diam aja? Gue nyinggung perasaan lo ya?”

”Eh, nggak. Alasannya cuma satu, aku belum menemukan yang cocok aja!” jawabku bohong.

”Oh, emang gimana kriteria elo?”

”Enggak tahu juga, yang jelas kalau aku menemukannya, aku akan tahu dialah orang yang tepat”

”Hohoho... dalem banget omongannya!”

”Kayaknya sampai sini aja deh! Aku masih ada janji yang lain” kataku berbohong.

”Apakah setelah lo pergi gue bakalan diikat lagi?” tanyanya frustasi.

”Kalau kamu nggak mau ya nggak perlu, aku akan menjamin kamu nggak akan diikat lagi asalkan kamu bisa menjaga perilaku kamu, nggak teriak-teriak lagi dan menyerang orang. Gimana? Deal?”

”Yah.. mau bagaimana lagi kalau itu keinginan lo! Hehehe...”

”Oke, dah!” seruku dan beranjak menuju pintu keluar.

”Yudha!” panggilnya tepat sebelum aku keluar.

”Kenapa?”

”Makasih ya dokter ganteng! Kalau lo mau sebenarnya semua cewek bakalan mau jadi istri lo sih! Lo kan cakep! Hehehe...” serunya tersenyum jahil.

Aku hanya dapat membalas senyumannya sebelum aku keluar dari ruangan tersebut dengan diapit oleh dua perawat dan meninggalkan dirinya sendirian di bangsal itu.

Pendekatan tahap pertama, berhasil!

***
“Saya sudah dengar reputasi anda selama ini, namun saya baru dapat mempercayainya dengan melihat hasilnya sendiri. Anda sangat mengagumkan, dokter Yudha! Anda dapat membuat pasien itu tenang, berhenti melawan dan berteriak-teriak” kata dokter Hary padaku di hari ketujuh aku di Malang.

Pagi ini sebelum aku menemui Mary, seorang perawat menyampaikan pesan dari dokter Hary ingin bertemu denganku pagi ini di ruangannya sebelum aku menemui Mary. Jadi, disinilah aku, di ruangan dokter Hary yang tidak berubah semenjak kedatanganku pertama kali kesini.

“Bukan apa-apa kok, dok. Saya rasa keberhasilan ini lebih kepada karena umurnya lebih dekat dengan saya ketimbang anda, jadi dia merasa lebih merasa dekat dengan saya ketimbang anda” jawabku merendah.

“Hahaha... mungkin-mungkin. Omong-omong, bagaimana perkembangannya? Maksud saya terakhir saya menemuinya, yaitu sehari sebelum anda datang, matanya penuh dengan dendam kepada ayahnya. Sekarang bagaimana?”

”Umm... menurut dari yang dia ceritakan kepada saya, dia memiliki kehidupan layaknya rmaja pada umunya di sekolah, namun di rumah, dia merasa bagikan di neraka, ayahnya sering menghukumnya dengan pukulan atau lainnya, membuatnya tidak betah di rumah, dan semakin ia jarang di rumah, hukuman yang diterimanya makin sering terjadi. Hanya itu yang dapat saya katakan, pasien menolak untuk bercerita lebih lanjut”

”Hanya itu?!” tanya dokter Hary tidak percaya.

“Saya mohon maaf. Memang informasi itu tidak begitu berpengaruh, anda pastinya juga sudah mengetahui hal itu. Namun memaksa pasien untuk bercerita lebih banyak adalah hal yang tidak mungkin saya lakukan. Tujuan saya berbicara dengannya adalah membuatnya nyaman dengan saya, membuatnya percaya dengan saya, dan itu terbukti dari sikapnya yang melunak kan?”

“Ya, ya, memang itulah yang terbaik” kata dokter Hary sambil memilin-milin janggutnya.

Hening. Kami sibuk di dalam pikiran masing-masing. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat diambil untuk selanjutnya.

“Dokter Hary” panggilku memecahkan keheningan yang terjadi.

“Iya?”

“Kalau anda tidak keberatan, bolehkah saya pamit? Saya sudah terlambat 5 menit dari jadwal bertamu dengan pasien. Saya tidak ingin membuat kepercayaannya pada saya yang telah terbangun ini jadi hancur begitu saja”

”Oh, oke, terima kasih atas waktunya dan selamat bekerja, dokter Yudha!” katanya dan kami pun berjabat tangan sebelum aku meninggalkan ruangannya.

***
Tok...tok....tok.... suara ketukanku di depan pintu yang sudah mulai familiar denganku ini. Tak lama kemudian suara seorang gadis mengizinkan aku memasuki ruangan itu. Dan aku membuka pintu dan melangkahkan kakiku ke dalam.

Semenjak pertemuanku dengan Mary yang ketiga, aku sudah memutuskan untuk menemui Mary tanpa ditemani seorang perawat pria. Mary sangat senang dengan keputusanku ini, dia tidak suka dengan pandangan perawat itu padanya. Memang sulit untuk sebagian orang untuk bersikap normal jika berhubungan dengan orang yang mempunyai penyakit kejiwaan.

”Lo telat!” serunya marah sebelum aku dapat berkata-kata.

”Maaf tuan puteri, pangeran harus bertemu dengan dokter Hary terlebih dahulu tadi” jawabku.

”Oh, jadi si Hary itu lebih penting dari gue ya?!” serunya marah.

“Mohon maaf tuan puteri, bukan begitu, namun dokter Hary tadi menitipkan sesuatu untuk puteri sebelum pangeran bertemu tuan puteri” kataku berbohong.

“Hah? Apaan?” tanyanya masih mempertahankan kepura-puraannya untuk bersikap acuh.

”Ini! Kamu suka cokelat kan?” tanyaku sembari menunjukan sebatang cokelat toblerone yang tadi sempat kubeli di supermarket dekat kontrakanku.

”Cok... ah, ya sudah kalau begitu, apa boleh buat, sini cokelatnya!” perintahnya tetap berpura-pura tidak peduli. Aku hanya tersenyum geli melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.

”Ini” kataku sambil menyerahkan cokelat itu.

”Hehehe.... gue kangen banget sama elo, Yud!”

”Aku juga kangen sama kamu”

”Iya, bosen gue ngelihat wajah perawat-perawat yang ada disini! Mendingan gue ngelihat elo, Yud!”

“Oke. Oke. Bagaimana hari mu?” tanyaku.

”Seperti biasa lah!” jawabnya asal kerena sekarang konsentrasi tercurah pada cokelat toblerone yang ada ditanganya.

”Ku dengar dari perawat, kemarin setelah aku pulang, orang tua kamu datang ya? Bagaimana kabar mereka?”

Mary membeku. Hening. Aku khawatir apakah aku telah mengatakan sesuatu yang belum pas saatnya ya? Apakah kemarin ayahnya juga datang? Apakah kedatangan ayahnya itu membuat dirinya trauma lagi?

”Maaf, lupain aja!” kataku memecah keheningan.

”Nyokap gue masih berusaha tersenyum ngelihat gue. Dan si bangsat itu berdiri disamping nyokap gue dengan pandangan siaga menjaga nyokap gue seakan-akan gue ini binatang buas yang bisa menyerang nyokap gue kapan aja gue punya kesempatan. Hal itu membuat gue kesal. Rasanya mau mencekik lehernya saat itu juga. Tapi karena hari itu nyokap gue datang buat gue, gue nggak mau dia melihat hal-hal yang mengerikan seperti mayat si bangsat itu” katanya menjelaskan.

”Parasaan dendam kamu itu tetap ada ya di dalam hati kamu? Kamu masih mau membunuh dia?” tanyaku.

“Iya, lo nggak tahu sih gimana nggak sukanya gue sama dia!”

“Iya, aku memang nggak tahu, tapi bagaimana aku bisa tahu kalau kamu nggak cerita? Aku kan bukan orang yang punya cenayang” kataku membujuk.

“Oke, gue ceritain deh sama lo, karena lo adalah orang yang spesial buat gue”

***
“KAMU NGAPAIN SIH NGEBELAIN KAKAK KAMU YANG BRENGSEK ITU!” teriak ayah padaku malam itu.

Malam itu adalah malam hari ulang tahunku yang ke-enambelas. Malam itu seharusnya kami sekeluarga pergi makan malam untuk merayakan ulang tahunku, namun kakakku yang menolak memakai pakaian yang pantas menurut ayahku menghancurkan suasana hatiku untuk merayakan hari ulang tahunku.

”UDAHLAH NGGAK JADI AJA MAKAN MALAMNYA!” kataku keluar dari mobil keluarga.

Aku segera berjalan menuju pintu rumah ku yang terbuka, sebelum ayah dapat mengejarku. Dia keluar dari pintu pengemudi dan berlari menghampiriku. Sebelum aku dapat mengelak, dia telah menjambak rambutku dan membenturkan kepalaku dua kali ketembok rumah hingga kepalaku berkunang-kunang.

”Ayah! Udah-udah...” seru ibuku melindungiku sebelum ayah dapat membenturkan kepalaku ke tembok untuk yang ketiga kalinya.

”BIARIN AJA, BU! ANAK KURANG AJAR KAYAK GITU EMANG PERLU DIBERI PELAJARAN! SETAN LO!” maki ayah padaku. Walaupun kepalaku berkunang-kunang aku masih sadar dan dapat mendengar makiannya.

Aku berdiri dari pelukkan ibuku dan pergi berlari menuju kamar kakakku. Mengacuhkan rasa pening dan penggilan serta makian ayahku. Aku mengetuk pintu kamar kakakku dan masuk setelah dibukakan pintunya.

”Kenapa?” tanya kakak perempuanku itu sambil mengelus-elus kepalaku, menenangkan diriku yang menangis tersedu-sedu.

”Gue nggak betah di rumah. Sampai kapan sih tuh bangsat bakalan menyiksa gue?” tanya gue tersedu-sedu.”Ya udah, lo sabar aja, nanti kalau gue udah lulus kuliah terus dapet kerja, dan gue udah punya rumah, lo boleh kok tinggal di rumah gue” jawab kakakku menenangkan. Dan malam itu aku menangis hingga tertidur.

***
”Bener nih nggak apa-apa nanti sore kita ngerjain tugas kelompok ini di rumah lo, Mar?” tanya Maria, teman sekelasku siang itu saat kami pulang sekolah. Teman-teman yang lainnya memandangku dengan tatapan khawatir.

”Ya nggak apa lah! Gue malah seneng kali!” seruku.

”Bukan elo yang kita khawatirin,” jawab Lopez, temanku yang lain.

”Terus?” tanyaku meminta penjelasan walaupun aku sudah dapat menebak apa yang mereka maksud.

”Bokap lo” jawab Maria takut-takut. Benarkan! Sesuai dengan dugaan ku! Si bangsat itu selalu membuat teman-temanku takut untuk berkunjung ke rumahku.

”Tenang aja. Gue nungguin lo di depan rumah gue deh!” janjiku.

“Oke”

***
“Lho kok elo nggak masuk?” tanyaku pada Maria saat aku tiba di depan rumah Mary dengan terengah-engah setelah mengayuh sepedaku dari rumah menuju rumah Mary, sahabatku.

“Tadi kita udah coba, tapi bokapnya Mary bilang Mary nggak bisa diganggu” kata Maria frustasi.

“Ah, lo kan tahu bokapnya Mary kayak gimana?! Dia nggak pernah menghargai kita! Lo udah coba telepon Mary?” tanyaku. Maria hanya menggeleng.

”Gue lupa bawa handphone” akunya.

“Oh, tunggu ya?” kataku. Dan akupun mengeluarkan handphoneku dari saku celanaku untuk menghubungi Mary. Tak lama kemudian terdengar suara Mary diseberang menjawab.

”Halo? Mary, ini gue, Lopez!”

”Oh, elo, kenapa, Pez?” tanya Mary.

”Lo pasti tidur lagi! Kita udah di depan rumah lo nih! Tapi bokap lo seperti biasa nggak ngizinin kita masuk. Buruan ke depan rumah lo gih!”

“Oke” serunya dan telepon pun terputus.

***
Apa-apaan sih ayah?! Kan tadi sepulang sekolah aku sudah bilang padanya bahwa teman-temanku akan datang mengerjakan tugas dirumah! Sepanjang perjalananku menuju depan rumah ku, aku hanya bisa menggerutu.

”Eh, maaf ya nungguin lama. Ayo masuk-masuk!” ajakku pada teman-temanku yang sudah mulai terlihat bosan menungguku. Mereka mengikuti masuk ke rumah dengan diam.


”Kalian mau minum apa?” tanyaku saat teman-temanku telah sampai dengan selamat di kamarku.

”Apa aja deh!” seru Lopez dan yang lain dengan semangat hanya mengangguk saja.

”Oke” kataku dan aku meninggalkan kamarku untuk mengambilkan mereka minuman dan snack yang ada di rumahku.


”Ngapain kamu?” tanya ayah saat aku ada di dapur mencari-cari snack untuk teman-temanku.

”Ada teman Mary datang, jadi Mary mau bawakan mereka snack dan minuman” kataku sembari menunjuk tiga gelas sirup rasa mocca kesukaanku dan snack yang berhasil kutemukan yang ada digenggamanku.

”Ngapain? Nggak usahlah! Taruh itu kembali! Dan berikan saja teman-temanmu itu air putih! Lagian ngapain sih mereka kesini?”

”Kami akan mengerjakan tugas kelompok! Kan kalau Mary pergi ke rumah teman Mary, ayah tidak pernah mengizinkan! Jadi ya mereka yang datang kesini!” seruku tanpa mengindahkan perintah ayahku untuk mengganti minuman dengan air putih.

”Tugas kelompok mulu! Memangnya gurumu tidak bisa ya tidak memberikan tugas individu? Ayah tidak suka dengan tawa anak-anak remaja yang terkikik! Mengganggu tidur ayah saja!”

”Ya mana Mary tahu! Ngomong saja dengan gurunya! Lagian kami nggak akan berisik kok!”

”BERANI KURANG AJAR YA KAMU!”

”Mary nggak kurang ajar! Hanya saja bisa nggak sih ayah menghargai tamu Mary? Menghargai teman-teman Mary? Mary saja bisa menghargai tamu ayah! Teman-teman ayah!”

”Ya wajar lah! Mereka kan teman ayah! Kalau temanmu itu hanya bisa mengganggu saja! Menyusahkan!”

”ALASAN APA ITU?! TIDAK RASIONAL! SETIAP TAMU ITU HARUS DIJAMU DENGAN SEBAIK MUNGKIN, YAH! ITU KATA NABI KITA!” seruku mengingatkan. Dan setelah itu ayah menyiram aku dengan air sirup yang ada di meja dan menyelengkat kakiku hingga aku terjatuh.

”JANGAN BERLAGAK MENGAJARI AYAH! KAMU ITU MASIH KECIL! TAHU APA KAMU!?”

”MARY BUKAN ANAK KECIL LAGI, AYAH! UMUR MARY SUDAH ENAM BELAS TAHUN!” seruku tak kalah tinggi.

Dan yang berikutnya yang ku dapatkan adalah tendangan bertubi-tubi dari ayah. Aku tidak dapat membalasnya, karena aku masih menghargai ayah sebagai ayahku. Aku hanya dapat menangis hingga akhirnya ibu datang menengahi kemarahan ayah padaku. Dan setelah puas menendangiku dan menyiramku dengan sirup dari ketiga gelas yang ada di meja makan, ayah pergi keluar dengan marah-marah membanting pintu.

“Maafkan ayahmu ya, Mar?” pinta ibu.

”Iya, bu” jawabku singkat. Dan aku pergi ke kamar untuk mengganti pakaian.

Saat dikamar, pandangan kekhawatiran terlihat diwajah kedua temanku itu. Aku hanya dapat tersenyum dan melangkah melewati mereka dan mengambil kaos dan celana pendek rumah yang biasa kupakai dan melangkah menuju kamar mandi untuk berganti.

”Maaf ya kalian harus dengar sesuatu yang buruk. Tunggu sebentar ya gue ambilin lo minuman, tapi maaf banget, gue cuma bisa kasih air putih, nggak apa kan?” tanyaku dengan senyum yang dipaksakan ke Lopez dan Maria.

”Iya nggak apa. Kita yang minta maaf harusnya, kita buat lo susah” kata Maria tulus.

”Nggak kok, nggak apa, udah biasa, lagian kan gue yang minta kalian ngerjain tugasnya dirumah gue. Habisan kalau nggak gitu gue nggak bisa bantuin, kan kalian tahu gue nggak dibolehin kemana-mana”

”Yang sabar ya, Mar?!” kata Lopez menepuk bahuku. Aku hanya dapat mengangguk dan pergi meninggalkan kamar untuk mengambil air putih yang kujanjikan.

***
”aku turut sedih, Mar. Aku nggak tahu kamu sebegitu menderitanya” kataku pada akhir dia menceritakan sedikit dari kisah kekerasan yang dialaminya.

”Itu hanya beberapa, belum lagi ayah yang selalu mudah marah jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dia selalu menasihati anak-anaknya, untuk ini lah, itu lah, tapi dia sendiri tidak pernah mencontohkan sesuatu hal yang baik bagi kami” katanya.

Aku hanya bisa terdiam, Mary meneruskan memakan cokelat tobleronenya. Saat mendengar hal ini langsung dari Mary, aku baru bisa merasakan begitu menderitanya dia, kalau aku jadi dia, mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya dan dirasakannya.

”Kenapa kamu nggak melaporkan hal ini pada yang berwajib? Kan ada komnas HAM?” tanyaku.

”gue nggak punya keberanian buat melakukan hal itu, gue nggak mau buat nyokap gue sendirian. Seperti yang lo tahu gue punya kakak perempuan, dia meninggal bunuh diri. Sehari setelah kematiannya, gue menemukan surat yang dia tulis sebelum bunuh diri. Dia juga merasa tertekan atas sikap ayah. Dan sejak itulah gue selalu ingin membunuh dia!”

“Kamu benar-benar ingin membunuhnya?” tanyaku meyakinkan.

“Iya!” jawabnya tanpa keraguan sedikit pun.

”Kamu sangat menyayangi ibumu, kamu bilang kalau kamu nggak mau melihatnya sedih sendirian, tapi apa yang kamu inginkan itu, yaitu membunuh ayahmu, itu akan sangat membuat ibumu sedih dan sendiri” kataku menasihati.

”Tapi...” katanya ingin menyangkal namun ia kembali terdiam.

”Benarkan perkataanku tadi? Kalau kamu membunuh ayahmu, ibumu akan kehilangan suaminya dan kamu, kamu akan dipenjara atas apa yang kamu lakukan. Kamu masuk rumah sakit ini saja sudah membuat ibumu sedih apalagi kalau kamu masuk penjara?”

Dia hanya terdiam. Hening diantara kami terjadi lagi. Aku yakin dia sedang memikirkan segalanya, semua yang aku katakan itu.

”Oke, ku rasa sudah saatnya aku pulang” kataku akhirnya sambil berdiri. Dia memegang tanganku, menahanku untuk pergi.

”Yudha, jangan pergi dulu. Bisakah kamu tinggal disini malam ini saja?” rengeknya seperti anak kecil. Ada sinar pengharapan di wajahnya yang membuatku tidak dapat menolak.

”Oke, kalau itu maumu” kataku dan aku duduk kembali ke kursiku semula.

”Terima kasih, Yud, kamu tahu, kamu telah membuatku berpikir tentang segalanya” katanya sembari tersenyum, senyum yang mengingatkanku pada masa lalu yang indah. Aku hanya dapat membalas senyumannya dengan senyuman getir.

”Kok tumben kamu menggunakan bahasa aku-kamu? Biasanya elo-gue?” tanyaku.

”Boleh dong aku pakai bahasa aku-kamu?”

”hahahaha... oke-oke...”

”Yud, boleh aku menanyakan sesuatu?” tanyanya.

”Hmm? Apa itu?”

”Saat pertama kali ketemu kamu, saat aku tanya kenapa kamu belum menikah, kenapa kamu bohong?” tanyanya. Ha? Kenapa dia bisa menyadari hal itu?

”Kamu nggak bisa bohong, Yud, hal itu kelihatan dari mata kamu” jawabnya seolah dapat mendengar apa yang ada dipikiranku. Aku hanya tetap terdiam. Tidak dapat memandang mata Mary.

”Yud, kan aku udah cerita, sekarang giliran kamu yang cerita dong?”

”Oh, hmmm.... dulu aku menyukai seorang wanita, pasienku juga” jawabku akhirnya.

”Lalu?”

”Udahlah ini sesuatu yang nggak enak untuk dibicarakan”

Please, Yud, kamu udah bantu aku, aku mu bantu kamu, Yud!”

”Dia pasienku, kamu tahukan maksudku, dia mengalami skizofernia, itu lho penyakit yang mengalami ilusi” jawabku sambil lalu.

”Sebenarnya dia sama saja seperti orang biasa, itu yang membuatku lengah saat itu. Pada suatu malam, dia meneleponku, menungguku di sebuah tempat yang setelah aku sampai, aku baru tahu kalau tempat itu adalah gedung yang belum selesai pembuatannya. Dia ada di atas gedung, berusaha untuk melompat. Aku langsung naik ke atas dan berusaha untuk membujuknya untuk tidak jatuh. Dia bilang, pacarnya adalah peterpan, dan dia adalah wendy, dia bilang peterpan mengajaknya untuk terbang, dan pada detik berikutnya, ia melompat dari atas gedung tersebut. Andai saja aku tidak menganggapnya sudah sembuh, memang kalau disiang hari dia seperti orang biasa, namun kemudian aku baru mengetahui dari perawat yang ada, kalau setiap malam dia sering berbicara sendiri dan dia bilang, peterpan hanya datang di malam hari, sudahlah, sampai sekarang aku masih terlalu trauma untuk memulai hubungan yang baru, tahu-tahu begitu aku sadar, umurku sekarang sudah 35 tahun”

”Yudha, apakah sampai saat ini kamu masih trauma untuk memiliki hubungan dengan seorang wanita terutama wanita penghuni rumah sakit jiwa?” tanyanya takut-takut.

”Entahlah, memang kenapa?” tanyaku bingung.

”Karena aku mencintaimu” jawabnya singkat.

Hening. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Sampai saat ini aku tidak pernah membayangkan Mary akan mencintaiku, aku tidak pernah membayangkan untuk mencintai seseorang selain dia yang telah pergi meninggalkanku.

”Sudahlah. Aku tahu kamu nggak akan mencintaiku, aku kan orang gila, ya kan? Hahahaha.... siapa sih yang mau jadi pacarnya orang gila? Hahahahha....” katanya sambil tertawa hambar mentertawakan candaannya.

”Mary....”

”Sudahlah! Keluar, Yud! KELUAR!” teriaknya. Dan aku hanya dapat menuruti permintaannya, meninggalkannya sendiri.

***
Apa-apaan gue? Berharap Yudha juga mencintai gue? Yudha kan baik cuma gara-gara dia dokter gue! Nggak ada perasaan lebih tentang gue! Mary, Mary, lo tuh terlalu berharap! Semalaman aku menangisi kebodohanku. Aku telah membuat Yudha bingung, aku tahu dia nggak akan bisa membalas cintaku, bahkan nggak mau! Siapa sih yang mau punya pacar pasien rumah sakit jiwa? Mary bodoh!

Tok-tok-tok

“Siapa?” tanyaku pada seseorang yang mengetuk bangsal ku. Aku kaget dengan suaraku sendiri, parau, menangis semalaman pastilah membuat penampilanku buruk. Siapa ya yang datang pagi-pagi begini? Waktu masih menunjukan pukul 7 pagi, dan kalau pun Yudha masih mau mengunjungiku, dia biasanya datang jam 9 atau jam 10 pagi.

”Ibu, Nak”

”Masuk” kataku dan ibuku pun masuk diikuti ayahku dibelakangnya.

”Kamu nggak apa-apa, nak?” tanya ibuku setelah ia duduk di kursi yang biasanya diduduki Yudha. Ayah hanya berdiri memandangi disamping ibu.

”Nggak apa kok bu” jawabku menenangkan hati ibuku.

”Kamu udah makan nak?”

”Sudah lah bu! Bilang saja langsung!” perintah ayah. Aku hanya memandangnya dengan penuh kebencian.

“Ayah!” protes ibuku

“Apaan sih bu? Bilang aja sama Mary!” pintaku.

”em... begini nak, kami sudah bercerai, ibu sekarang akan tinggal di Malang, disini, menjengukmu selalu, sedangkan ayahmu akan tinggal di Jakarta dengan isteri barunya” jawab ibuku sambil lalu. Namun aku menyadari suaranya bergetar menahan tangisan.

”APA?!”

”Iya, nak, jadi hari ini ayah mau pamit, mungkin ayah tidak akan datang menemuimu lagi” jawab ayah kali ini dengan santainya.

”KENAPA? KENAPA KALIAN BERCERAI?”

”Ayah tidak ingin tinggal di Malang dan meninggalkan isteri mudanya di Jakarta, nak!” jelas ibuku.

”SEJAK KAPAN AYAH MENIKAH LAGI!?”

”Setelah kamu masuk rumah sakit ini, ibu baru tahu kalau ayah telah menikah lagi dengan sekretarisnya di kantor, dan setelah itu baru kami bercerai, nak” kata ibu menjelaskan.

”BANGSAT LO YA?! BERANI-BERANINYA LO MENYAKITI IBU GUE!?” teriakku sambil menyerang ayah. Untungnya semenjak ada Yudha, aku sudah tidak diikat dan menggunakan pakaian yang mengikat tanganku itu, aku sudah diperlakukan agak sedikit seperti orang normal.

Ayah tidak melawan, karena untung baginya datang tiga orang perawat pria yang menahanku dan mengikatku kembali. Ibu hanya menangis, ayah memandang mengejek. Dan pada detik selanjutnya, aku tertidur, sepertinya salah satu perawat menyuntikan penenang padaku.

***
Aku harus bersikap seperti apa nanti kalau aku bertemu Mary? Apakah hari ini aku masih harus menemuinya? Aku hanya berjalan mondar-mandir di dalam rumah kontrakanku esoknya, ragu untuk datang mengunjungi Mary lagi. Kini waktu telah menunjukan pukul 16.00.

Tulit-tulit-tulit...

Handphoneku berbunyi. Rumah sakit jiwa yang menelepon. Ada masalah apa ya?

“Halo?”

“Dokter Yudha? Ini perawat Rohmania”

“Ya, kenapa?”

”hari ini anda tidak datang mengunjungi Mary?”

“Tidak, memang ada apa?”

“Mary hilang, dok, tadi orang tua nya datang dan Mary kehilangan kontrol lagi dan kami harus menyuntikan penenang padanya, lalu sore ini, saat seorang perawat mengeceknya, yang seharusnya dia baru bangun, menemukan tempat tidurnya kosong, dok! Jadi kami kira dia bersama anda. Dapatkah anda membantu kami mencarinya, dok?” kata perawat itu menjelaskan.

”Baiklah, saya akan segera kesana!” kataku dan telepon pun terputus.

***
”Yudha? Bagaimana kamu bisa menemukan aku?” tanyanya saat aku dapat menemukannya dengan mudahnya, dia sedang berada di atas atap tertinggi di rumah sakit jiwa Malang ini.

Saat aku menemukannya, dia sedang merentangkan tangannya, bersiap untuk melompat. Untung aku dapat menemukannya di saat yang tepat. Di bawah sana orang-orang sedang berkerumun melihat Mary yang hendak melompat ini. Ih, nih orang! Bukannya ngebantuin malah melihat doang!

”Mary, Mary, kumohon Mary, jangan melompat, kamu nggak mau membuat aku menderita kan Mary?” pintaku memohon sambil merentangkan tanganku membujuknya.

”Hhpphh.... kamu kan nggak mencintaiku. Kenapa kamu bisa bilang aku bisa membuatmu menderita?” jawabnya tertawa.

”Mary! Jangan bercanda Mary! Apapun masalahnya itu, kita dapat membicarakannya bersama, Mary!”

”Masalahnya bukanlah sesuatu yang dapat dengan semudah itu terselesaikan. Kamu bahkan tidak akan dapat membantuku, Yudha!”

”Nggak ada masalah yang nggak terselesaikan! Mary, kumohon Mary, melihatmu meninggal itu adalah hal yang terburuk yang tidak mau kualami. Aku mencintaimu, Mary. Aku janji akan melakukan apa saja asalkan kamu kesini!”

”hahaha... nggak usah gitu, Yud, nggak usah memaksakan dirimu untuk mencintaiku, aku tahu kamu juga jijik kan padaku? Lagipula ini bukan masalah cintaku pada mu yang bertepuk sebelah tangan, Yud!”

”Kamu nggak bertepuk sebelah tangan kok Mary! Aku benar-benar mencintaimu! Lagi pula apa masalahnya Mary? Ayo kesini Mary, kita selesaikan masalahmu!”

“Terima kasih, Yud, di saat terakhirku pun kamu tetap mau menemani aku, ini bukan masalah orang tuaku, atau kamu Yud, ini adalah masalah tentang diriku sendiri, Yud, aku benci diriku sendiri, Yud! Diriku yang hanya bisa membuat ibuku menangis, diriku yang hanya bisa membuatmu bingung dan ragu. Makanya Yud, aku mau membunuh diriku itu, aku nggak mau menyulitkan lagi, Yud!”

“Siapa bilang aku ragu? Siapa bilang aku bingung? Aku benar-benar mencintaimu, Mar!”

“Terima kasih, Yud, atas segalanya, aku juga mencintai dirimu melebihi aku mencintai diriku sendiri” katanya sambil tersenyum, dan pada detik kemudian dia melompat, meninggalkanku dengan kenangan buruk yang bertambah.
Kenangan buruk akan kehilangan orang yang kucintai selamanya.....

18 December 2008

Part 1, KBbS&AJ

Teeenggg!! Bel sekolah berbunyi. Namun, bunyi itu segera disambut oleh bunyi lainnya, yang segera membuat murid-murid berseru serempak,"Yaah!!" Yup, hujan deras telah melanda kawasan SMA ini. Karena dari pagi sampai siang tadi cuaca begitu cerah, tidak ada yang menyangka bahwa hujan akan turun. Makanya, kebanyakan murid tidak membawa payung, dan yang membawa payung pun segera diserbu oleh teman-temannya untuk nebeng pulang bareng.

Aku juga termasuk dalam salah satu murid-murid yang segera berseru kecewa bagitu hujan turun. Hari ini ada les, lagi! Kalau aku nggak sampai di sana tepat waktu, pasti bakalan dihitung sebagai absen oleh guru lesku yang nyebelin itu. Dan kalau sudah 5 kali absen, aku terancam dikeluarkan dari tempat les yang sekarang

Aku menatap suram jendela kelas yang kabur karena tertutup rintik air. Sebersit ide segera menyelinap masuk ke otakku. Oh, iya! Hari ini kan dia lagi nggak ada kuliah! Minta jemput dia aja, deh!!

Kuambil handphoneku, lalu menelepon nomor yang sudah amat kukenal itu.

"Halo? Assalamualaikum! Eh, lo jemput gue, dong! Ujan nih, gue kan ada les ntar jam empat!" kataku pada seseorang di seberang sana.

"Waalaikumsalam! Yeee...emang gue supir lo apa! Seenaknya aja minta anter jemput kemana-mana!" sungutnya.

"Eh, sekali-kali kan nggak ada salahnya nyenengin adek sendiri! Udah, nggak usah cerewet, buruan dateng!" balasku tak kalah sengit.

" Huuh!! Siapa suruh nggak bawa payung! Ya udah deh, gue jemput, dengan syarat lo mau nraktir gue bakso di ujung gang !" Sial. Masa aku mesti nraktir dia, sih? Yah, tapi nggak apalah, daripada dimarahin sama guru geblek itu. "Ya udah deh, deal!"

Yah, sudahlah, akhirnya aku nungguin dia dateng, sambil baca-baca majalah. Dan kira-kira setengah jam kemudian, dia datang, sambil membawa payung. Dia masuk ke teras sekolahku, dan ketika melihatku, dia tersenyum manis dan memanggilku, "Kayla! Yuk, kita berangkat!"

Begitu melihatnya, aku langsung tercengang. Nggak biasanya dia bersikap semanis ini padaku. Tapi, begitu melihat teman-temanku yang masih ada di sekitar teras takjub menatapnya, aku langsung paham. Dasar! Cari kesempatan buat tebar pesona aja, sih!

Segera saja aku mendekatinya, dan begitu yakin tidak ada orang yang melihat, aku langsung mencubit lengannya keras.

"Aduh!! Sakit tau! Emang gue ada salah apa sih sama lo?" katanya sambil meringis dan melompat menghindar.

"Dasar lebay! Lo tuh ya, ngapain sih pake tp tp segala di sekolah gue?" kataku merengut.

"Lah, ada peraturannya gitu kalo di sekolah lo nggak boleh ada acara tp segala?" katanya bandel.

"Eh, asal lo tau aja ya, gue nggak rela kalo sampe ada temen gue yang jatuh cinta sama lo! Bisa menderita tuh hidupnya!" balasku.

Sejenak ia terdiam, lalu mengeluarkan kunci mobil dan membuka pintu mobil. Aku kaget juga dengan perubahan sikapnya ini. Aku jadi merasa bersalah, mungkin ada kata-kataku yang sedah menyakiti hatinya.

Setelah duduk di kursi penumpang di sebelahnya, aku segera berkata,"Eh, lo nggak papa? Maaf ya, kalo gue kelewatan", kataku lirih.

Tiba tiba saja ia menatapku. Hampir saja aku terkecoh oleh ekspresinya, kalau ujung-ujung bibirnya tidak bergetar menahan tawa, dan matanya tidak bersinar jahil. Langsung saja, aku menimpuk kepalanya dengan tas kecil yang kubawa dari tadi, isinya baju olahraga.

"Aduh! sakit, tau! Lagian emang nggak bau apa!" katanya sebal.

"Bau, bau dari hongkong! ini baju nggak gue pake, tau! Dasar lo nya aja yang lebay!" kataku lebih sebal lagi.

Dia tertawa, dan kali ini dia menyetir mobil dengan perlahan. Sesampainya di jalan raya, ia mulai mengoceh lagi, "Eh, tau nggak sih, tuduhan lo tadi pagi nggak bener!"

Aku bingung. "Hah? yang mana?"

"Yang lo bilang gue nggak punya cewek itu. Yah, seenggaknya tuduhan lo itu nggak bener sejak tiga jam yang lalu. Gue baru aja nembak seorang cewek, dan dia bilang dia mau jadi pacar gue!" katanya sumringah.

"Hah, serius lo? selamet, ya! Eh, ngomong-ngomong, lo nembak cewek dari mana? Oh iya, berarti gue nggak mesti nraktir lo, dong! Kan gue belom dapet pj nya!"

"Hahaha, ya udah deh, karena gue baik, kali ini gue yang nraktir elo!"

"Wah? Kesambet apaan, nih? Makasih, ya!" kataku tulus.

Lagi-lagi, ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum menatapku. Aku sempat tersenyum balik juga padanya, kalau saja aku tidak melihat sesuatu di tengah jalan. Ya ampun! Ada anak kecil yang sedang mengejar bolanya yang menggelinding ke tengah jalan!

"Kak, awas!!!" kataku panik. Dia segera membanting setirnya begitu melihat anak itu. Mobil yang kami naiki pun terpental akibat perubahan arah yang tiba-tiba. Aku tidak dapat melihat apapun kecuali pusaran warna-warna karena putaran mobil yang begitu cepat. Setelah itu, semuanya hitam.

Pembukaan KBbS&AJ

“Wooi!! Cepetan dong! Lama banget seeh!!” Aku segera turun dari tangga, dan nyaris terpental begitu sampai di dasar, karena tiba-tiba saja kakakku sudah ada di depan tangga. Untung saja ia segera memegang lenganku, menahanku agar tidak jatuh.

Aku segera menegakkan kembali badanku, namun baru saja aku mau mengucapkan terimakasih, ia sudah berkata lagi,”Jadi cewek tuh lelet banget, ya! Mau sekolah aja persiapannya ribet banget, sih!” Aku merengut, dan membalasnya dengan berkata,”Iya,iya! Gue ngerti kok ucapan orang yang nggak pernah punya cewek”, balasku. Dia menatapku, lalu langsung membalikkan badan dan berkata, “Bodo ah! Cewek satu aja dah ribet banget, apalagi kalo lebih! Mau gue anterin, nggak? Kalo mau cepetan, dong!” Ia berjalan menuju mobilnya dan membuka pintu. Kemudian ia melemparkan sebuah kunci padaku. “Nih! Bukain pagernya ya!”. Aku menangkap kunci itu, dan membuka pagar rumah sambil berteriak pada Mama yang menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kami, “Ma! Kita berangkat dulu, ya!” Mama hanya melambaikan tangan sambil berkata, “Hati-hati di jalan, ya!”. Aku segera menutup pagar dan masuk ke dalam mobil yang segera melaju kencang di atas aspal.

08 December 2008

You and You : Tiga

“Mea!” panggil Aji dari kejauhan saat Mea memapah Luqman yang hendak masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan.

“Iya, Ji, kenapa?” tanya Mea. Luqman telah masuk ke dalam.

“Kamu mau kemana?”

“Nganterin Luqman pulang, kan dia kasihan kakinya keseleo”

“Aku kan udah bilang sama kamu, Mey, jangan deket-deket dia!” katanya marah dengan berbisik.

“Maaf kak Mea, ayo buruan kita pulang, argonya jalan terus nih!” potong Luqman dari dalam.

“udah dulu ya, Ji! Gue mau nganterin dia pulang dulu. Kalau ada perlu besok aja ngomongnya atau nggak nanti malam lo nelepon gue aja” jawab Mea ketus.

“Mey, tunggu!” katanya menarik lengan Mea sebelum ia masuk, namun tarikkan itu ditepis oleh Mea, Mea masuk dan menutup pintunya dengan keras. Aji hanya bisa diam.

Apa gue udah melakukan hal yang membuatnya marah ya? Tapi gue menolaknya buat kebaikan dia sendiri kan? Dari pada gue nganggep dia Risa. Kenapa Mea berubah? Apa dia nggak bisa terima? Oh, Tuhan… kenapa gue nggak bisa lepas dari bayang-bayang Risa? Ris, lo saking dendamnya sama gue ya? Semuanya akan lebih mudah kalau Mea nggak mirip kamu, Ris. Apa yang harus gue lakuin? Kalau gue terima, gue egois, nggak mikirin perasaan Mea, tapi kalau gue tolak kayak gini, hati gue yang resah melihatnya dekat dengan cowok lain, terlebih-lebih Luqman. Mau ngelarang juga, dia bukan siapa-siapa gue! Ah… gue bingung!

“Ji, lo kenapa sih? Kayak orang gila deh! Bengong aja! Ada masalah apa sih? Kok tadi gue lihat Mea balik bareng Luqman? Biasanya kan bareng lo?” tanya seseorang yang ada di sampingku.

“Eh, lo, Ta. Dari kapan lo ada di samping gue?”

“dari tadi sehabis Mea pergi naik taksi. Memang ada masalah apa sih? Kok tadi kayaknya Mea kasar banget sama elo?”

“Oh, iya, lo kan sahabatnya Mea, lo tahu kalau dia suka sama gue?”

“ya iyalah… Emang ada masalah apa??”

“gue bakalan cerita kalau lo mau janji sama gue buat bantuin gue baikan sama Mea ya?” tanya Aji saat itu juga saat ide gila itu muncul di kepalanya.

“Emang lo berantem sama Mea?”

“Nggak berantem sih, gue cuma nolak dia… tapi menurut lo etis nggak sih kalau gue yang udah nolak dia terus menuntut dia untuk nggak dekat dengan cowok lain, terutama Luqman”

“Oh, jadi Mea udah lo tolak, ya pantes aja dia jadi kasar sama lo! Dia tuh masih kayak anak kecil kali! Jadi kalau lo tolak, dia bakalan mendingin malah cenderung menjauh dari lo! Lo juga seharusnya nggak boleh ngelarang dia dekat sama cowok lain lah! Gue juga bakalan marah kali kalau digituin! Emang kenapa sih lo nolak dia? Apa coba kurangnya dia? Lo sama dia kan udah klop banget dari kelas satu. Yang satu manis, yang satu ganteng”

“Ada lah alesannya tersendiri! Menurut lo mendingan gue jalan sama dia dengan perasaan ragu-ragu kalau gitu?”

“Ya nggak gitu juga sih. Emang kenapa sih? Gue janji deh nggak bakalan bilang siapa-siapa!”

“gue masih belum yakin sama perasaan gue ke dia. Duh, gue bingung banget nih! Apa yang harus gue lakuin sih?”

“gue juga nggak tahu sih, Ji. Gue nggak pernah mangalami yang seperti ini. Yah… saran gue sih lo ikutin aja! Selain itu, yang musti lo inget, awas lo kalau nyampe bikin Mea nangis! Lo berhadapan ama gue! Gue nggak bisa menyarankan yang lebih spesifik seperti seharusnya lo terima dia atau lo tolak dia. Kalau perasaan lo bilang nggak, ya nggak usah lah! Yang jelas kalau sekarang-sekarang gue saranin lo jangan dekat-dekat aja dulu sama Mea, perasaan cinta dia ke lo yang udah dipupuk selama ini, nggak bisa dengan mudah begitu saja dilupakan dalam satu hari, jadi lo harus beri waktu ke dia untuk melupakan rasa cinta itu. Maaf, Ji gue nggak bisa bantu lo. Gue netral!”

“tapi kalau gue nggak mau dia melupakan rasa cintanya ke gue gimana? Seperti yang lo tahu hati gue masih ragu. Dan gue maunya kalau hati gue udah tahu apa yang gue inginkan, dia selalu ada buat gue”

“Kalau kayak gitu mah elonya yang egois! Biarin aja dia melupakan lukanya yang telah lo buat. Biarkan lukanya menutup, kalau emang lo dan dia jodoh, walaupun dia udah melupakan cintanya buat lo, ujung-ujungnya dia bakal jatuh cinta lagi sama lo! Oya, udah dulu ya? Gue udah dijemput tuh! Bye!”

“Bye!”

“Oya, kalau ada perkembangan certain ke gue ya? Soalnya Mea selalu menutup diri sih!”

“Iya, thanks!”

“Tadi kenapa kok kasar banget sama Aji?” tanya Luqman memecah keheningan di dalam taksi.

“ah, eh, rumah lo dimana?”

“Tadi gue udah bilang ama supirnya alamat rumah gue, nggak usah dikhawatirin, yang penting, sekarang lo belum jawab pertanyaan gue, tadi kenapa kasar banget sama Aji? Bukannya lo suka sama dia?”

“Udah lah nggak usah diomongin!”

“Oh, ya udah, gue juga nggak maksa sih, tapi, kalau lo mau cerita ama gue tentang Aji atau nanya-nanya, lo bisa calling gue”

“Ya udah, itu gampang lha…”

Tak terasa perlahan-lahan taksi yang ditumpangi Luqman dan Mea berhenti di sebuah rumah besar dengan halaman yang hijau dan asri dengan pagar putih yang kecil, dan dikejauhan terlihat sebuah rumah kecil putih yang terlihat nyaman.

“Hah? Jadi ini rumah lo?” tanya Mea saat mereka telah turun dari taksi.

“Iya”

“Jadi, rumah ini, rumah lo?” mengulang pertanyaannya tidak percaya.

“Iya, eh, nggak ding! Ini rumah bokap-nyokap gue, gue cuma numpang tinggal sama mereka!”

“Ya itu mah sama aja rumah lo!”

“Ya beda dong, udah lah emang kenapa sih? Mau mampir?” tanya Luqman sembari berjalan menyusuri jalanan beraspal yang mengarah kerumah kecil putih tersebut.

“Mau banget! Lo tahu, rumah gue juga di kompleks perumahan ini lho!”

“Nggak. Nggak tau, baru dikasih tau sih barusan ama lo!”

“Setiap berangkat sekolah atau pulang sekolah, gue selalu nyempet-nyempetin lewat depan rumah ini cuma buat ngelihat rumah ini. Gue suka banget sama rumah lo ini, kelihatan asri! Adem aja gitu kalau melihatnya!”

“Oh, yaudah!” jawab Luqman singkat.

“Ikh! Kok responnya cuma gitu doang sih! Ngomong apa kek! Ngomong ‘lo boleh kok main-main kesini’!” tandas Mea marah.

“Jadi lo berharap gue nyuruh lo main ke rumah gue terus gitu?”

“Ya nggak terus-terusan sih! Ya seenggaknya basa-basi kek! Gue tuh penasaran tahu pengen jalan-jalan di taman ini!”

“Kapan-kapan aja ya jalan-jalannya? Kalau kaki gue udah sembuh. Jadi, biar gue bisa nemenin lo jalan-jalan di taman gue ini”

“Janji ya?” tanya Mea sambil menyodorkan kelingking kanannya.

“Apaan nih maksudnya?”

“Janji kelingking. Masa nggak tahu sih!?”

“Oh, iya deh!” sahut Luqman dan ia menambatkan kelingkingnya di kelingking Mea. Berjanji kelingking.

“Hmph…hahahahahahahahahaha” tawa Luqman setelah ia melepaskan kelingking kanannya dari Mea.

“Kok malah ketawa sih!!??” tanya Mea keki.

“gue ngerasa lo tuh lucu aja! Terkhir gue berjanji jari kelingking tuh pas gue kelas 2 SD tahu! Gue nggak nyangka nyampe sekarang masih ada yang beginian!”

“hih… sebel gue!! Nggak usah ngetawain kek! Udah deh gue pulang aja!” seru Mea keki.

“sori… sori… jangan pulang ya, Mey? Please… gue kan belum berterimakasih sama lo! Gue juga belum menyuguhkan teh buat lo!”

“Hah? Ngapain menyuguhkan teh buat gue?”

“it’s tradition. In my family, you must give someone who was help you, for pay your owe to her or his. Mungkin ini nggak adil, tapi seenggaknya seperti itu, lagipula lo kan juga tamu, dan tamu harus disuguhi teh kalau bertamu”

"Kok teh sih? Apa nggak ada yang lain? Orange juice gitu?"

"Keluarga gue menganut sistem tehisme! Jadi di rumah adanya teh yang biasanya disediain. Kalau mau yang lain musti beli dulu. Dan karena kaki gue lagi sakit, masih mending lo gue kasih teh!"

“Oh, yaudah deh terserah lo aja!”

Pintu rumah Luqman sangat bergaya vintage, warnanya putih dengan ukiran-ukiran jawa. Di samping kiri dan kanannya terdapat sepasang tanaman rambat yang cantik dengan beberapa bunga-bunga yang indah berwarna merah, kuning, oranye, dan pink.

“Yuk, masuk!” panggil Luqman. Aku pun masuk sesuai ajakkan Luqman. Di dalamnya, sangat berbeda dengan tampak depan rumahnya yang bergaya eropa, semuanya khas jawa, ukiran-ukiran di dinding, sofanya yang terbuat dari kayu jati yang sepasang dengan meja dan buffetnya, diatas meja ada beberapa camilan kue-kue kering di dalam stoples yang disediakan dengan gambar-gambar batik, dan lantainya kayu jati yang hangat.

“Duduk dulu, lo mau minum apa?”

“Lho? Tadi katanya mau bikinin gue teh?”

“Oh, maksud gue tuh kalau lo mau teh, mau teh apa? kan ada earl grey, teh hijau, teh hitam, teh oolong, teh poci, teh susi, teh nani, dan teh-teh lainnya” jawabnya dengan lawakkan yang sangat jayus.

“Hahaha” tawa Mea garing.

“Udahlah apa aja yang menurut lo paling maknyus!” sambungnya.

“Oh, terus mau pake es atau panas?” tanya Luqman di pintu ruang tamu sebelum meninggalkan Mea menuju dapur untuk membuat pesanannya.

“Berisik banget sih! Udah buruan! Pake es deh! Udah haus nih!”

“Hehehe maaf… sebentar ya nona manis..” dan detik selanjutnya Luqman sudah menghilang dari pandangan.

Gila nih Luqman! Rumahnya benar-benar rumah impian gue! Rumahnya Aji kayak gimana ya? Calon rumah gue! Hush! Nggak boleh berharap! Lupain Aji! Cari yang lain! Pikirnya menggelengkan kepalanya sendiri.

“Kak Risa?!” panggil seorang gadis dengan kaget pada Mea, mengembalikannya ke dunia nyata dari lamunannya.

“Eh, ah, sori! Kamu siapa ya?” tanya gadis itu yang berumur sekitar 13 atau 14 tahunan yang menatap Mea dengan pandangan aneh.

Gadis itu mengenakan pakaian tennisnya dengan raket tennis yang di sandangnya di dalam tas tennisnya. Tangan kanannya membawa sebuah bungkusan hitam yang berembun. Rambutnya di kuncir ponytail. Wajahnya mirip sekali dengan Luqman, seperti Luqman memakai wig hitam berkilau. Luqman versi cewek.

“Eh, aku? Halo, aku Mea. Temannya Luqman” jawab Mea dengan mengulurkan tangan kanannya pada gadis itu untuk berkenalan.

“Oh, halo, aku Isha, adiknya Kak Luqman. Kakak mau ketemu kak Luqman? Tapi kayaknya kak Luqmannya belum pulang deh kak!” serunya sotoy.

“Apanya yang belum pulang!? Dia bareng gue tauk!” seru Luqman ikut-ikutan. Luqman masuk ke ruang tamu dengan dua gelas es teh di tangannya.

“Eh, kakak…”

“Udah sana gih masuk en mandi! Bau tauk! Nanti bilangin mama nih lo gangguin tamu gue!”

“Iya-iya” jawab Isha dengan menurut dan ia pun naik ke atas tangga yang ada disamping pintu yang tadi menuju ke dapur.

“Diminum, Mey”

“Iya” jawab Mea dan ia menyeruput esnya. Segar…

“Hmm… Man, nggak apa-apa kali, gue nggak merasa terganggu kalau ada Isha”

“Iya, lo kagak keganggu, tapi gue merasa terganggu tauk! Dia tuh biang gossip di rumah ini!”

“emang lo berapa bersaudara?”

“Banyak! Ada sodara dari nyokap, ada sodara dari bokap”

“Bukan… maksud gue yang tinggal disini! Yang sodara kandung lo!”

“Oh, Ada bokap, nyokap, gue, adek gue tuh si Isha yang esempe, ama kakak perempuan gue plus suaminya yang masih ngikut ama bonyok gue”

“oh, kok sekarang sepi ya rumah lo ini??”

“Kalau sore-sore gini iya. Pokoknya dari jam 8 pagi sampe jam 7 malam nanti yang ada palingan cuma gue ama Isha, ama pembantu kalau itu juga diitung. Bonyok gue kerja, kakak perempuan gue, kak Anna, ngajar, kakak ipar gue kak Faridz juga kerja.”

“Rame banget ya keluarga lo”

“Iya. Apa lagi kalau ada arisan keluarga, kan kebetulan bonyok gue emang anak pertama dua-duanya, jadi rumah gue dijadiin pangkalan keluarga mulu kalau ada acara. Makanya bokap nyari rumah yang ada tamannya yang gede, selain buat nyenengin nyokap yang suka berkebun, kalau ada acara kan tinggal gelar tenda tuh di taman. Kagak mahal-mahal!”

“Isha kenal sama Risa ya? Kok tadi manggil gue Risa??”

“Iya. Risa itu sudah seperti saudara kembarnya Isha, kemana-mana maunya berdua mulu. Makanya namanya Isha, katanya mirip-miripin sama namanya Risa, kan Isha-Risa tuh!”

“Hahahaha… ada-ada aja… emang nama aslinya siapa?”

“Itu nama aslinya kali, tapi dulu sebelum ketemu Risa, nama panggilannya bukan Isha, tapi Dee. Nama panjangnya Aulia Dennisha Putri.”

“Hahaha… bener juga ya? Eh, gue pulang dulu ya?? Takut kesorean!”

“Oh, yasu. Lo pulang naik apa? Perlu gue anterin nggak?”

“Nggak, nggak usah, kan tadi gue bilang rumah gue deket dari sini.”

“Thanks ya udah nganterin aku, KAK MEA!!” seru Luqman saat Aku melangkah pergi menuju pagarnya yang putih.

Esok paginya…

“Mey, bisa ngomong bentar nggak?” tanya Aji saat aku dan dua orang temanku yang lain, Lita dan Ita sedang tertawa cekikikan di kantin. Hari ini adalah hari MOS terakhir, besok sudah masuk ke rutinitas yang seperti biasanya.

Aku menanyakan apa aku harus ikut Aji untuk ngomong empat mata dengan kerlingan pada teman-temanku yang dibalas dengan anggukan. Dan aku mengangguk pada Aji dan mengikuti kemana Aji pergi. Aji mengajakku ke belakang sekolah yang sepi yang biasanya dijadikan tempat nongkrong anak-anak yang membolos pelajaran.

“Kenapa, Ji?” tanyaku berusaha sedatar mungkin.

“Eh, emm masalah yang kemarin, aku mau minta maaf”

“buat?”

“Iya, aku minta maaf karena aku sudah menolakmu. Saat itu aku nggak bisa berpikir jernih. Aku seneng banget waktu kamu bilang kamu berharap lebih dari aku. Berarti aku nggak bertepuk sebelah tangan sama kamu. Aku nggak bisa terima kamu karena kamu mirip sama Risa, Mey! Kamu udah tahu kan pastinya dari Luqman. Tapi aku juga suka sama kamu, aku hanya masih belum yakin akan perasaanku”

“Terus intinya?”

“Intinya, aku berharap kamu mau menunggu hingga aku yakin akan perasaanku padamu, aku nggak mau kamu melupakan rasa cintamu padaku. Bisa nggak harapanku itu terkabul?”

“Kita lihat aja nanti. Aku nggak bisa menjanjikan perasaanku ini akan selalu ada untuk mu. Hidup ini selalu berputar, bisa aja suatu hari nanti aku menemukan the another Mr. Right. Rasa cinta ini mungkin sampai hari ini masih ada sama kamu, tapi siapa yang bisa menebak hari esok? Kalau kamu memaksakan agar aku tetap mencintaimu dan menunggumu yakin akan perasaanmu, kamu sangat egois dan aku nggak mau penantianku nanti hasilnya sia-sia belaka. Siapa yang bisa menebak kapan kamu akan yakin dengan perasaanmu? Bisa aja 5 tahun lagi? 10 tahun lagi? Atau 50 tahun lagi? Kalau misalnya benar sampai 50 tahun lagi kamu baru yakin akan perasaanmu padaku, saat itu sudah bagaimana aku? Tua dan keriput! Itupun kalau misalkan umurku bisa sampai segitu. Aku hidup bukan hanya untuk kamu. Aku hidup untuk tuhanku, untuk diriku sendiri, dan untuk orang-orang disekitarku yang menyanyangiku. Aku nggak bisa menjanjikan hal itu, maaf. Toh kalaupun kita memang berjodoh, suatu hari nanti kita akan dipersatukan. Oh iya, jangan lupakan juga, ikan yang telah kamu lepaskan adalah ikan yang besar yang nantinya akan kamu sesali tidak menangkapnya. Permisi, aku harus masuk ke kelas” jawabku bersamaan dengan berbunyinya bel masuk dan aku meninggalkan Aji sendirian.

“Halo, kak Mea!” seru seseorang saat aku sedang bengong di sela ISHOMA. Aku sedang duduk termenung sendirian di kantin sekolah karena Lita dan Ita, partner in crime ku sedang menunaikan salat Dzuhur.

“Oh, lo, Man. Kenapa?”

“Nggak salat?”

“Biasa, cewek kalau tiap bulan nggak salat. Lo sendiri?”

“udah. Lo nggak makan?”

“udah kenyang”

“Ya udah deh, gue boleh makan disini?” tanyanya. Ku lihat ia membawa semangkuk soto ayam dan segelas es jeruk yang terlihat sangat menyegarkan.

“Boleh. Nggak ada yang ngelarang”

“Kali aja ketua lo yang cakep itu nantinya ngomel-ngomel lagi”

“Nggak usah pikirin Aji deh!”

“oh, ya udah. Eh, tadi pas istirahat pertama, gue ngelihat lo ngomong empat mata ama Aji di belakang sekolah, ngomongin apaan?”

“Lo nguping ya?”

“tadinya sih mau nguping, cuman ketahuan ama kak Lita dan kak Ita. Jadinya gue pergi aja en jadi malah mereka yang nguping”

“Dasar tuh anak berdua! Awas aja nanti kalau ketemu gue jadiin dendeng!”

“Hahhahhaa…. Bahaya tuh! Terus lo ngomongin apa ama Aji?”

“Hffhhh… emang penting yang gue cerita ama lo?!” seru Mea dan langsung beranjak dari kantin sambil berlari.

“Duluan ya?! Bye!” teriaknya.

Mea… mea… kenapa sih lo mesti mendem perasaan lo sendiri? Aji emang cowok brengsek yang udah bikin dua orang wanita yang mirip jadi sakit hati… Andai lo tahu, Ji, apa yang terjadi sama Risa dulu…

Malam harinya di kamar Aji…
Mea…
Kenapa nama itu selalu ada dipikiranku?
Aku takut untuk dekat denganmu…
Tetapi aku tak bisa jauh darimu…
Melihatmu bersama pria lain, mambuat monster dalam diriku meraung-raung...
Kenapa kamu mirip sekali dengannya…
Semuanya mungkin akan jauh lebih mudah jika kalian berbeda…

Jika cinta biarkanlah aku jadi cinta…
Jika sayang biarkanlah aku jadi sayang…
Hatiku ini miliknya, tuhan tolong…
Jangan jodohkan, dia dengan yang lain…

“Mey, Pak Har katanya nggak bisa nganterin kamu lagi” kata mama pada malam harinya saat aku sedang tidur-tiduran di rumah sambil membaca novel favoritku dan mendengarkan ipodku yang berisi lagu-lagu favoritku.

“Hah?! Kenapa, Ma?” tanyaku kaget beranjak dari posisi tiduranku dan melepas earphone ipodku.

“Katanya udah nggak mau lagi, udah nggak kuat buat narik ojek! Maklum udah tua!”

“Yah.. terus besok aku gimana, Ma?”

“Naik angkot dulu aja ya? Nggak apa-apa kan??”

“Yah.. Mama…”

“Cuma besok aja kok! Nanti mama carikan penggantinya besok!”

“Bener ya cuma besok aja?”

“Iya… nanti mama tambahkan uang jajanmu besok”

“Okeh deh, Ma!”

Halo, Mey, lagi apa?


Lagi ngapalin biologi! knp, Man?


Oh, gue ganggu?


Gak. Knp?


Lagi pengen sms lo aja!


Oh.. yasu, mau ngomongin apa?


Ada kabar?

Kabar? palingan cuma kebanyakan tugas! Nothing so important!


Oke-oke. Ada yg lain?


Ngapain sih nanya-nanya mulu?


Nggak suka ya?


Iya!


Maaf


Hehehe… bercanda! Kalo mau kabar, gue lagi bt ama tukang ojek yang biasanya langganan nganterin gue! Jadilah besok gue ngangkot!


Knp?


Dia nggak mau ngojekin gue lagi!


Oh, ada kabar baru tentang Aji?


Hfff... ngapain sih ngomongin dia! Bikin gue bete aja!


Maaf


Udah ya, gue ngantuk!


Met tidur!


Iya! Lo juga!

“Ma, aku berangkat dulu ya?”

“Hati-hati di jalan ya, Nak!”

“Iya, ma!”

Hfff… aku dengan berat hati melangkahkan kakiku keluar rumah untuk berangkat sekolah. Aku paling nggak biasa naik angkot untuk berangkat ke sekolah. Alasannya simpel, males hanya bisa duduk didalam mobil yang penuh dan pengap sedangkan diluar macet dan sebentar lagi bel masuk di sekolah berbunyi. Makanya, aku lebih suka untuk naik sepeda motor untuk berangkat sekolah, lebih cepat. Maunya sih bawa motor sendiri, tapi mama dan papa sangat overprotektif sama motornya, perlu ku ulang lagi, MOTORnya! Orang tua apaan tuh! Bukannya khawatir sama anaknya, eh, malah sama motornya! Takut kalau kecelakaan motornya rusaklah, takut aku nggak bisa ngerawat motor terus jadi rusak mesin motornya, takut kalau aku dipalakin anak nakal terus motornya diambil lha, takut aku melanggar peraturan lalu lintas terus motornya di sita lha sama polisi, takut STNKnya diambil lha, hhhfff... dasar orang tua!

Aku keluar dari gerbang rumah dan menutupnya kembali dengan keadaan yang tidak terkunci, bukannya nggak peduli, tapi aku percaya sama keamanan di kompleks rumahku.

“Pagi!”

“Astagfirullah! Allahu laa ilaha ila huwal hayyul qayyum!”

“Heh! Enak aja! Emangnya gue setan?!”

“hehehe... maap..maap.. habisan lo ngagetin gue ajah!”

“Iya deh… bareng yuk!” ajak Luqman dari atas motornya.

“Naik itu?!” tanyaku aneh menunjuk pada motornya. Motornya adalah motor Honda Scorpion yang pastinya nggak pewe banget kalau ngebonceng dengan pakai rok panjang.

“Iya lah! Naik apa lagi? Udah mending gue jemput!”

“Bentar ya? Gue ke dalam dulu!” kataku dan langsung ngibrit ke dalam rumah.


“Maaf lama!” kataku terengah-engah saat tiba lagi di hadapan Luqman.

“Iya! Lama banget! Ngapain sih?”

“tada! Lihat deh!” kataku sambil mengangkat rokku tinggi-tinggi.

“Woi!! Aurat!!” teriak Luqman sambil menutup matanya sendiri.

“Yee… lihat dulu dong!!”

“Nggak! Gue masih suci!!”

“Siapa yang mau kasih lihat badan gue ama lo?! Dasar mesum! Gue cuma mau kasih lihat kalau gue pakai legging buat mengakali naik ke motor lo!”

“Eh, iya..iya...” katanya membuka matanya dan melihatku.

Aku ngengir jahil. Dia tersenyum manis. Kami tertawa terbahak-bahak bersama.

“Ayuk lha!!! Naik! Nanti telat!” katanya.

“Oke” aku pun naik dengan mudah karena sudah memakai legging.

“Cie… yang bareng sama Luqman….” goda Lita saat aku sampai di kelasku. Aku mengacuhkannya dan langsung mencari tempat dudukku di samping Ita. Lita mengikutiku dari belakang.

“Yaahh... kok diam aja? Cerita dong!” rayu Lita.

“Eh, ada berita apaan?” tanya Ita yang sedang membaca komik langsung mengalihkan padangannya ke Lita.

“Hehehe..... gue nggak berani ngomong! Takut nona ini marah!” jawab Lita. Aku hanya merengut memandang mereka berdua yang tersenyum-senyum najis.

“Apaan sih? Nggak ada yang lebih!” jawabku akhirnya.

“Bohong! Tadi gue lihat lo datang bareng Luqman!!” seru Lita.

“Ya terus kenapa?” tanyaku.

“Ya pasti ada sesuatu!” jawa Ita.

“Eh, itu An Ancient Love Story yang baru ya? Pinjem dong!” seruku menunjuk komik yang dipegang Ita untuk mengalihkan pembicaraan.

“Udah nggak usah mengalihkan pembicaraan!”

“Iya-iya! Tadi pagi memang gue bareng Luqman!”

“Terus?”

“Terus apaan lagi? Ya memang hanya itu aja!”

“Masa? Lo nggak merasa berdebar-debar?”

“Ya iyalah jantung gue berdebar!”

“Ciee...” seru mereka serempak.

“Ya kalau nggak berdebar berarti gue mati dong! Nggak pernah belajar biologi ya bu? Dua tahun ini ngapain aja??” sambungku.

“Nggak-nggak-nggak, Mey, lo lebay-lo lebay!” jawab Lita.

“hehehe…”

“Ayo dong, Mey, cerita…”

“Udah cuma itu ajah memang mau apa lagi!?”

“Yah.. Mea nggak asik nih!!” seru mereka kompak.

“Cie… yang bareng sama Luqman….” goda Lita pada Mea yang baru tiba di kelas.
Itulah kalimat yang mengagetkanku pagi ini. Hah? Mea bareng sama Luqman? Kenapa? Aku berusaha untuk mencuri dengar pembicaraan Mea, Lita, dan Ita yang kebetulan duduk di belakangku. Namun apa boleh buat, mereka membicarakannya dengan berbisik, maka aku tidak dapat mendengarnya.

Monster dalam diriku meraung-raung terbakar api kecemburuan. Ingin rasanya aku berteriak, memaki, dan membanting barang-barang di sekitarku. Apakah secepat itu Mea melupakan rasa cintanya padaku? Apa yang membuat Mea dapat melupakanku? Apakah ini balasan dari Tuhan atas semua yang telah kulakukan? Inikah balasan atas kesalahanku menolak Mea?

Ya, aku hanyalah orang nista yang penuh dengan dosa dan api cemburu. Kesalahanku pada Risa tidak dapat semudah itu termaafkan, lalu aku menambah daftar kesalahanku lagi dengan menolak Mea. Apakah tidak ada balasan lainnya dari Tuhan yang lebih mudah dari hal ini? Kenapa selalu Luqman yang dapat menarik perhatian kedua wanita yang bertengger di singgasana hatiku? Apakah yang dimilikinya sementara aku tidak memiliki?

Laporan pertanggung jawaban yang diberikan Ama yang harus kuperiksa sedari tadi hanya kupandang dengan tatapan yang kosong. Ketua OSIS macam apa aku ini?! Aku tidak dapat berlaku professional dengan tidak melibatkan urusan pribadi dengan urusan OSIS. Padahal aku selalu berpesan pada rekan-rekan OSIS ku pada setiap akhir rapat untuk tidak melibatkan urusan pribadi dalam organisasi. Kini kalimat itu bagaikan harimau yang menerkamku sendiri. Hhhhffffff…….

Jarkom: bwt smw anggota OSIS, pulang sklh nanti ada rapat dngn pokok pembicaraan lpj yg akan dipertanggungjawabkan dihadapan mpk sabtu nanti

Ting tung ting tung…

“Mea!!!” panggil seseorang saat aku sedang berlari menuju ruang kesekretariatan OSIS.

“Kenapa, Luqman??” jawabku menghentikan langkah dan berbalik menghadapnya.

“Pulang bareng yuk!”

“Duh, maaf, gue masih ada rapat! Baru selesai nanti sore, lo balik duluan aja!”

“Oh, ya udah! Good luck ya dengan rapatnya!” serunya dan dia langsung berlari menghilang di tikungan menuju kantin sekolah.

“demikianlah rapat kali ini kita tutup, berdoa dipersilahkan. Berdoa selesai” kata Aji menutup rapat yang berlangsung hampir 3 jam ini.

Saat ini waktu menunjukan pukul 17.30. Semua anggota OSIS dengan tas mereka masing-masing berhamburan keluar dari ruangan kesekretariatan OSIS. Namun dihadapan mereka menyambutlah awan kelabu dengan halilintar menyambar-nyambar, hujan belum turun, namun cuaca menunjukkan kalau akan turun hujan yang sangat deras.

“Duh, Lit, lo balik gimana?” tanyaku pada Lita.

“Gue nungguin cowok gue jemput!” jawabnya singkat, pada detik berikutnya dia pergi setelah membaca sms yang masuk di ponselnya.

“Kalau elo, Ta?” tanyaku pada Ita.

“Lo mau nebeng? Duh maaf, mobil gue lagi di bengkel, jadi mungkin nanti supir gue jemput pakai motor”

“Duh.. gimana nih? Masa gue naik angkot?!”

“Mey!” panggil seseorang.

“Eh, kenapa, Ji?”

“Kebetulan hari ini gue bawa mobil, soalnya tadi pagi di rumah gue hujan, gue anterin lo pulang ya?”

“Eh, ah, nggak usah, Ji, gue… gue… gue…”

“Dia bareng gue, Ji!” potong Luqman menyelamatkanku.

“Bareng lo?” tanya Aji memastikan.

“I.. iya! Gue bareng Luqman! Duluan ya, Ji!” kataku dan langsung menarik lengan Luqman menjauh dari Aji.

“Makasih ya tadi udah nyelametin gue! Gue nggak tahu harus bagaimana bersikap kepada Aji kalau nantinya memang gue satu mobil sama dia!” kataku memulai pembicaraan saat Luqman mengeluarkan Honda Scorpionnya dari tempat parkir.

“Nggak apa kok!” jawabnya singkat.

“Lo dari tadi belum pulang? Memang ada acara apaan?”

“Nggak ada apa-apa, gue nungguin lo”

“Makasih ya?” kataku, dan Luqman hanya mengangguk dibalik helm hitamnya. Aku naik ke kursi penumpang di belakang Luqman dan memegang pinggang Luqman erat-erat saat Luqman menancapkan gas.

Shit!! Kenapa gue kalah lagi dari Luqman!? Sikapnya barusan fuck banget! Barusan Luqman dan Mea lewat di depanku yang sedang mengeluarkan mobilku di tempat parkir. Apa-apaan dia?! Kalau memang dia sayang sama Mea, harusnya Mea yang menggunakan helmnya! Kan bahaya sekali tidak memakai helm! Selain itu seharusnya kalau naik motor, Mea mengenakan jaket kulit yang dipakai Luqman! Bukannya sweater merah mudanya yang tipis itu! Dasar Luqman! Awas aja kalau Mea sampai sakit!

Aku mengemudikan mobilku keluar dari lingkungan sekolah, namun saat mobilku berada di depan kompleks sekolah, hujan turun mengguyur Jakarta dengan derasnya, angin bertiup sangat kencang dan suara air-air hujan berjatuhan dengan deras di atas ford escape kesayanganku bak bebatuan yang dijatuhkan secara membabi buta. Untung hari ini aku membawa mobil. Apa Mea baik-baik saja ya? Apa Luqman membawa mantel hujan untuknya?

Jawaban atas pertanyaan gue terjawab saat mobil ini melewati salah satu halte bus yang ada di dekat sekolah. Bersama dengan pengendara motor dan pejalan kaki lainnya, Mea dan Luqman berlindung dari hujan di bawah naungan atap halte bus, walau begitu, tidak cukupnya tempat untuk berbagi dengan orang yang berteduh disana membuat badan mereka ikut basah kuyup walaupun mereka berada dibawah naungan atap halte bus. Perlahan ku tepikan mobilku ini ke halte bus, dan kubuka jendela di sisi kiri untuk berbicara dengan Mea.

“Mey, ayo naik!” teriakku. Mea hanya menggeleng.

“Ayo, Mey!” bujukku. Dia tetap menggeleng.

“Ji, kalau dia nggak mau jangan maksa dong! Udah jalan sana! Macet tuh!” kata Luqman membela Mea saat aku membujuk untuk ketiga kalinya.

“Lo harusnya nggak ngomong gitu! Lo nggak kasihan apa sama Mea yang basah kuyup kedinginan kayak gitu?! Lo harusnya bantuin gue buat ngebujuk Mea, kan kalau gue yang anterin, dia nggak bakalan kehujanan! Di dalam mobil gue cukup hangat dan disini ada handuk!”

Hening sesaat. Tak ada yang berbicara, yang terdengar hanyalah suara hujan yang semakin deras dan bunyi klakson kendaraan bermotor yang berada di belakang mobilku.

“Mey, udah sana gih lo ikut Aji! Apa yang dibilang Aji bener, Mey. Lo nggak usah menghawatirkan gue, gue bisa pulang sendiri”

“Nggak! Gue nggak mau biarin lo sakit sendiri!” jawab Mea kukuh.

“Mey, gue janji, gue nggak akan sakit, sana naik ke mobilnya Aji. Oh iya, pakai jaket gue, nih! Ini jaket kulit, jadi lo nggak akan kebasahan saat menerjang hujan” kata Luqman seraya menyerahkan jaket kulitnya pada Mea. Mea menurut, memakai jaket Luqman dan masuk ke mobil Aji.

“Man, hati-hati ya? Jangan sakit, nanti kalau sudah sampai rumah sms gue ya?” pesan Mea sebelum mobil menjauh.

“Oke! Aji! Hati-hati nyupirnya!” teriak Luqman. Aku hanya mengangguk dan pergi dengan menutup jendela di sisi kiri.

Aduh.. gue harus ngobrol apa sama Aji? Masa hening gini. Dari tadi yang bersuara hanyalah suara mp3 yang disetel Aji dan beberapa senandungan Aji, sedangkan gue, cengok, berusaha membuang muka dengan melihat hujan atau suasana di luar mobil.

Yahoo…! Seneng gue akhirnya bisa menang dari Luqman, yah walaupun gue menang, dari tadi Mea hanya memandang ke luar jendela, nggak berusaha buat ngobrol sama gue. Apa emang harus gue ya yang mulai obrolan?

Akhirnya hingga di rumahku pun tetap hening, hujan, musik dari music player, dan suara mesin mobil Aji yang suaranya halus pun tidak lagi mengisi keheningan ini.

“Ehm, Ji, makasih ya?”

“Iya, sama-sama”

“aku… masuk ya?”

“Oke” katanya tersenyum lembut.

“Oya, nanti kalau kamu udah sampai di rumah, jangan lupa telepon aku ya?” pesanku.

“Oke”

Aku pun turun dan Aji mengeluarkan mobilnya dari garasi rumahku. Sembil terus tersenyum memandangku yang mau nggak mau aku ikut tersenyum hingga mobilnya menghilang di balik pertigaan dekat rumahku. Aku pun melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah, saat aku menutup pintu, kak Mei menunggu dengan muka tersenyum-senyum sumringah.

“Kenapa lo? Senyum-senyum sendiri! Gila ya?”

“Cie.. tadi pagi dijemput pakai motor, pulangnya dianterin mobil! Sama siapa tuh?”

“Hmm... sama siapa yaa?? Ada aja! Daripada lo ngurusin gue mendingan sono gih lo urusin tugas lo! Gue nggak mau lagi ya disuruh begadang cuma buat ngetikkin skripsi lo!”

“Okeh, gitu ya? Ya kalau gitu, siap-siap aja gih menghadap pengadilan Papa sendiri!”
Deg. Kalimat sakti terakhir yang diucapkan kak Mei membuatku terpaku dan berbalik memandangnya lagi.

“Papa udah pulang?”

“Yup!”

“Kapan?”

“Hmm... kira-kira sejam yang lalu”

“Mati gue!”

“Siapa yang mati Mea!?” sahut seseorang dari balik punggungku. Mampus. Papa pulang duluan. Mati gue. Mati gue. Mati gue. Sedangkan kak Mei hanya tersenyum dengan senyuman kemenangan yang paling licik.

“Eh, Papa, sore, eh, malam, eh Assalamualaikum, Pa…” kataku sambil berbalik sambil cengir-cengir mesam-mesem.

“Kamu tahu kan apa perjanjiannya?”

“Tahu, Pa”

“Coba sebutkan!”

“Semua anak Pak Hardi Wijoyokusumo yang belum memiliki suami, harus pulang ke rumah sebelum Pak Hardi Wijoyokusumo itu pulang kantor, lebih dari itu, akan diceramahi selama 2 kali jam telatnya”

“Dan selisih kamu dengan Papa pulang?”

“Satu jam?”

“Jadi berapa jam hukuman kamu?”

“Dua jam”

“Bagus deh kalau kamu menyadari kesalahanmu”

“Tapi, Pa. Ceramahnya satu jam aja ya? Masih banyak pe er sama tugas OSIS nih!”

“Kamu mau jadi 3 jam?”

“Eh, nggak!”

“Ya udah kalau gitu kamu mandi, salat, dan makan dulu, setelah itu temui Papa di ruang kerja Papa”

“Baik, Pa”

 
Blogger design by suckmylolly.com